Wajah Kita di Pasar Kampung Kota

·Bacaan 3 menit
Salah satu pedagang menggunakan face shield dan sarung tangan saat melayani pembeli di Pasar Senen, Jakarta, Senin (1/6/2020). Saat era new normal, para pedagang di pasar rakyat diwajibkan menggunakan masker, face shield, dan sarung tangan selama beraktivitas. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Meski kini banyak sekali mal mentereng, wangi, dan sejuk, tapi pergi ke pasar masih menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sambil rela berbecek-becek ria menyusuri los-los pasar tradisional, banyak hal yang didapat dari petualangan itu.

Kita juga masih rela berdesakan di pasar kaget, menemukan barang tak terduga sambil menyicip kuliner kampung, walaupun sebenarnya kita bisa belanja dari rumah hanya dengan sekali sentuh layar kaca.

Pasar menjadi tempat ‘ajaib’ yang dahulu bukan hanya pusat lokasi bertemunya penjual dan pembeli, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya beragam pemikiran dan cita-cita. Pasar menjadi wadah interaksi berbagai kalangan, mulai dari kaum intelek, propagandis, hingga seniman sungguhan dan seniman jadi-jadian, termasuk juga mereka yang memilih menjadi bandit dan pencopet.

Pasar Senen di Jakarta Pusat misalnya, sejak abad 20 telah menjadi jantung kehidupan kota. Kawasan yang tak pernah mati dari berbagai aktivitas. Selain jual beli, di tempat itu, semua orang bisa dan boleh bercakap-cakap tentang apa pun. Mulai dari persoalan asmara hingga perdebatan serius soal berbagai permasalahan bangsa.

Keberadaan Pasar Senen sebagai tempat bertemunya keberagaman, tidak lepas dari sosok seniman sekaligus penyair Sitor Situmorang. Dalam kebudayaan Batak, sebagai latar belakang kebudayaan Sitor, pasar merupakan ruang kerakyatan, tempat elite membina aspirasi bahkan memulai revolusi. Sitor membawa konsep ‘Onan’ ke Pasar Senen, sehingga pasar bukan lagi sekadar tempat jual beli tetapi juga menjadi ruang bersama untuk menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat.

Sejarawan JJ Rizal pernah bercerita, poster ikonik berisi slogan ‘Bung Ajo Bung’ yang digunakan untuk membakar semangat pejuangan kemerdekaan, ternyata dibuat para seniman Pasar Senen yang terinspirasi dari ucapan ‘perempuan malam’ kala menggoda mereka. Dari situ boleh dikatakan, secara tidak langsung ada andil perempuan malam di Pasar Senen untuk kemerdekaan bangsa ini.

Itulah keajaiban festival pasar rakyat, tempat pertemuan agung berbagai lapisan masyarakat dengan beragam coraknya. Lantas bagaimana pengalaman pertemuan itu saat digitalisasi tak mampu dihindari dan pandemi Covid-19 merebak? Terlebih pengaruh konsep ‘onan’ mulai luntur di pasar rakyat.

Irsyad Ridho, pengkaji budaya Universitas Negeri Jakarta kepada Liputan6.com pernah mengatakan, tanpa ada komunitas, mustahil pasar bisa dilipat ke dalam ruang digital. Artinya, kehidupan kita yang cenderung komunal masih menjadi penentu. Pasar daring itulah yang kemudian menawarkan pengalaman baru berkomunitas yang belum pernah terbayang sebelumnya, yaitu tempat bertemuanya orang-orang lintas lokasi dan lintas identitas.

“Itulah mengapa pasar daring yang muncul menambahkan fitur obrolan, karena pasar yang baik seharusnya tidak melupakan fungsi awalnya, yaitu mempertemukan manusia untuk memperbincangkan keragaman kebutuhannya dan kesenjangan kebutuhannya,” kata Irsyad.

Di ruang jual beli online kini seseorang bisa bercakap-cakap dengan sesama pembeli. Bermula dari perbincangan soal barang yang akan mereka beli, obrolan bisa melebar ke soal lain, ke urusan hobi sampai ke perihal kejengkelan bersama terhadap anggota dewan.

Di tahun-tahun mendatang, Indonesia akan menghadapi bonus demografi, di mana sebagian besar warga Indonesia pada saat itu adalah mereka para milenial. Ini menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan pasar rakyat, sekaligus pasar daring, untuk tetap mempertahankan konsep ‘onan’ namun tidak meminggirkan digitalisasi.

Bisa dibayangkan kelak, Pasar Palmerah hidup berdampingan dengan Pasar Daring Palmerah. Pasar daring yang dimaksud, bukan sekadar tempat jual beli sayur dan buah via online, tapi juga tempat membuka obrolan baru tentang hal-hal baru, atau misalnya tempat seniman Bentara Budaya menjual tiket pementasannya, tempat mahasiswa Binus memperkenalkan karya-karyanya, tempat tukang bunga mawar hingga nasi uduk menjajakan jualannya, sehingga saling berkelindan dan terus bergumul menjadi tempat komunitas bangkit bersama sahabat.

**Ingat #PesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Simak juga video pilihan berikut ini: