Waketum MUI: Santri harus bisa mandiri dan bersaing

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kiai Haji Marsudi Syuhud mengatakan santri harus bisa mandiri dan bersaing secara ekonomi.

Berbicara dalam acara puncak pameran seni dan budaya seputar pesantren di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Sabtu, K.H. Marsudi Syuhud menyinggung perintah agama tentang zakat dan sedekah.

"Perintahnya bayar zakat, bayar sedekah. Itu artinya santri-santri harus bisa jadi orang kaya untuk bisa membayar zakat dan membayar sedekah, bukan untuk nguber-nguber cari zakat dan sedekah," kata Marsudi dikutip dari siaran pers.

Oleh karena itu, lanjut dia, selain menguasai ilmu agama, santri juga harus bisa menguasai ilmu lain, seperti teknologi, ekonomi, industri, bahkan mengusai industri itu sendiri.

"Santri minimal ada industri sarung," kata pengasuh Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta itu.

Menurut dia, santri bisa berperan dalam industri yang langsung maupun tidak langsung menunjang ibadah, yang cakupannya cukup luas.

"Salat disuruh menutupi aurat butuh industri pakaian, butuh industri sarung. Haji pakai pesawat berarti santri dituntut mempelajari ilmunya Allah untuk menjadi wasilah berangkat haji, mempelajari penerbangan, serta mempelajari teknologi dan IT," ujarnya

Pameran seni dan budaya seputar dunia pesantren diselenggarakan oleh Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia, Jejaring Duniasantri, dan Makara Art Center (MAC) UI pada tanggal 22—27 Agustus 2022.

Hadir pada acara puncak dengan tema Negeri Sarung itu istri presiden keempat Indonesia Hj. Sinta Nuriyah Wahid, Wakil Ketua DPR RI Dr. Rachmad Gobel, mantan Ketua Umum PBNU K.H. Said Aqil Siroj, dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen.

Baca juga: Relawan sebut Ganjar konsisten kembangkan kewirausahaan santri
Baca juga: Wapres tanam kecambah kelapa sawit unggul bersama 100 santri di Riau