Wakil Ketua Komisi VI DPR Nilai Kenaikan Harga Kedelai Bersifat Temporer

Merdeka.com - Merdeka.com - Wakil Ketua Komisi VI DPR Aria Bima menyebut kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe hanya bersifat temporer. Kendati demikian, Aria menyebut Komisi VI segera mengundang Kementerian Perdagangan, importir serta perajin tahu dan tempe untuk bisa dimitigasi ujung permasalahannya.

"Kami Komisi VI DPR RI segera mungkin akan mengusulkan rapat dengan Kementerian Perdagangan dan atase perdagangan di negara-negara eksportir kedelai untuk mencari dan menyelesaikan masalah dan kenaikan harga yang sifatnya temporer ini," ujar Aria Bima kepada wartawan di sela Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, di Klaten, Jawa Tengah, Kamis (29/9) petang.

Bima mengatakan kenaikan harga kedelai saat ini sangat membebani perajin tahu tempe dan konsumen. Tak hanya itu, kenaikan harga kedelai juga dipastikan akan mendongkrak inflasi jika tidak segera diselesaikan.

"Menurut saya, dibutuhkan kesadaran pemerintah bahwa kedelai itu komoditas bahan pokok yang sangat dibutuhkan. Terutama untuk nutrisi bagi kelas menengah ke bawah yang sangat tidak mungkin mengkonsumsi jika harganya begitu tinggi," katanya

Politikus PDIP asal Dapil VI Jateng itu mengemukakan, untuk mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor, pemerintah juga harus melakukan inovasi untuk mengembangkan dan memproduksi kedelai dengam varietas sesuai yang dibutuhkan perajin tahu tempe.

"Kebutuhan kedelai untuk produksi tahu tempe memang berbeda. Makanya varietas yang dikembangkan harus juga disesuaikan dengan kondisi alam kita," jelasnya.

Dia memaklumi jika saat ini produksi kedelai lokal belum bisa berkembang cepat untuk memenuhi kebutuhan nasional. Namun dia juga mengingatkan pemerintah akan pentingnya swasembada kedelai.

"Saya kira ketahanan pangan yang menyandarkan pada impor terutama kedelai, ini rentan terhadap berbagai persoalan. Terutama kejadian yang sering terjadi seperti barang langka, harga yang liar sehingga tidak bisa dikendalikan produsen kedelai," tandasnya.

Kenaikan harga seperti yang dialami kedelai, dinilainya sangat mungkin terjadi di komoditas lain. Hal ini terjadi karena normalisasi transportasi logistik dunia yang belum usai. Sehingga sangat mengganggu distribusi berbagai komoditas impor dan ekspor.

Selain itu juga dipicu oleh pondasi dolar yang tidak menentu. Masalah tersebut menjadi bertumpuk yang menyebabkan harga kedelai tinggi.

"Sistem logistik dunia ini masih menuju normal dengan perdagangan Amerika dan China. Kementerian Perdagangan dan setekholder lainnya seperti Kementerian Perhubungan harus bisa menormalkan masalah ini," tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, harga kedelai impor di pasar tradisional Kota Solo merangkak naik sejak dua pekan lalu, pasca-kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Sebelumnya harga kedelai berkisar Rp10.000 per kilogram (kg), saat ini melambung hingga Rp13.000.

Untuk menyiasati agar tetap bertahan, para perajin pun harus memutar otak. Salah satunya dengan memperkecil ukuran tahu dan tempe. Sehingga tidak perlu menaikkan harga yang bisa memberatkan konsumen.

Kenaikan harga cukup signifikan tersebut membuat perajin tahu dan tempe di Kota Bengawan resah. Mereka terancam tak bisa berproduksi jika harga bahan baku tahu tempe tersebut tidak segera turun.

"Sudah dua minggu ini harganya naik terus. Sebelum BBM naik itu sekitar Rp10.000, sekarang ini sudah 13.000 per kilogram," ujar Wagiyem perajin tahu asal Krajan, Solo, Kamis (29/9). [cob]