Wakil Mentan AS akui takjub lihat pertanian tradisional di Jatiluwih

Wakil Menteri Pertanian (Mentan) Amerika Serikat Jewel H. Bronaugh menyebut dirinya takjub melihat tradisi dan sejarah panjang sistem bertani tradisional di Jatiluwih, Tabanan, Bali, yang menerapkan praktik-praktik berkelanjutan dan mampu mengantisipasi berbagai situasi perubahan iklim.

Bronaugh mengatakan pengalaman melihat langsung kompleks persawahan terasering di Jatiluwih, yang merupakan penutup rangkaian pertemuan menteri pertanian (AMM) G20 di Bali, menjadi momen yang tidak terlupakan.

“Tradisi yang bertahan lama di Jatiluwih ini sangat menakjubkan. Kita harus menghormati warisan ini, karena tradisi bertani di sini telah ada sejak abad ke-9. Tradisi semacam ini yang dipertahankan bertahun-tahun oleh para petani, dan ini juga yang menopang perekonomian Indonesia,” kata Bronaugh menjawab pertanyaan ANTARA pada sela-sela kegiatannya di Jatiluwih, Kamis.

Dalam kesempatan yang sama, ia menilai mempertahankan cara bertani tradisional bukan sesuatu yang mudah sehingga ia terpukau pada petani di Jatiluwih yang mampu melestarikan tradisi bertani yang organik dan minim polusi, mengingat sawah di tempat itu masih dibajak oleh sapi, dan bukan traktor.

“Kami di sini melihat bagaimana tradisi itu bertahan, sejarah di balik itu, dan bagaimana sistem irigasi di sini bekerja. Ini adalah pengalaman yang tidak akan saya lupakan,” kata Wakil Menteri Pertanian AS itu.

Bronaugh, dalam kunjungannya itu, juga menjelaskan pertanian digital, yang menjadi salah satu tema sentral di G20 Agriculture Ministers Meeting (AMM), menjadi kian relevan saat dihadapkan pada cara bertani tradisional di Jatiluwih yang terbukti berkelanjutan dan mampu beradaptasi dengan dampak perubahan iklim.

Ia menyampaikan pertanian digital dan pertanian tradisional bukan dua hal yang bertentangan, karena keduanya justru saling melengkapi.

Pemanfaatan teknologi pada pertanian digital dapat membantu petani-petani tradisional, seperti misalnya di Jatiluwih, untuk meningkatkan efisiensi dalam penggunaan lahan dan air.

“Teknologi digital juga dapat membantu petani mengantisipasi perubahan iklim, dan tetap meningkatkan produktivitas. Keduanya adalah pasangan yang tepat, tradisi dan teknologi yang merupakan masa depan pertanian,” kata dia menjawab pertanyaan ANTARA.

Bronaugh bersama pejabat asing lainnya, antara lain Menteri Pertanian dan Agripangan Kanada Marie-Claude Bibeau, Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) Qu Dongyu melihat langsung praktik bertani tradisional di Jatiluwih, Tabanan.

Kawasan persawahan Jatiluwih yang mencakup Pura Ulun Danu Batur, Danau Batur, lanskap sungai dan pura pada daerah aliran sungai (DAS) di Pakerisan, Caturrangga Batukaru, dan Pura Taman Ayun telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia sejak 2012.

Dalam kunjungan itu, para delegasi asing yang menghadiri AMM G20 juga diajak mencicipi panganan dan minuman khas Jatiluwih, di antaranya teh beras merah.

Baca juga: Indonesia ajak delegasi AMM lihat pertanian berkelanjutan di Jatiluwih

Baca juga: Mentan: Tiga isu prioritas Indonesia direspons positif anggota G20