Waktu Berpuasa di Gedung Tinggi Burj Khalifa Lebih Lama, Kok Bisa?

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Dubai - Jam puasa di suatu negara tentunya berbeda-beda. Contohnya jam berbuka tiga kota Uni Emirat Arab berbeda-beda, warga Sharjah dan Abu Dhabi akan berbuka satu menit lebih awal dari warga Dubai.

Menariknya adalah waktu berpuasa di gedung tinggi seperti Burj Khalifa ternyata lebih lama. Ini juga berlaku bagi yang buka puasa di atas gunung.

"Pada menara-menara yang sangat tinggi, periode puasa akan relatif lebih lama semakin tinggi (tempatmu), dan residen harus buka puasa saat matahari tenggelaman berdasarkan ketinggian tempat tersebut," ujar Ibrahim Al Jarwan, anggota Federasi Sains Luar Angkasa dan Astronomi Arab, kepada Gulf News, dikutip Kamis (8/4/2021).

Burj Khalifa memiliki tinggi 828 meter dan 160 lantai yang bisa dihuni.

Al Jarwan menjelaskan bahwa secara matematis, ada perbedaan satu menit untuk altitudo 300 meter. Itu setara dengan lantai 90 dari gedung pencakar langit.

Selanjutnya, ada ekstra dua menit bagi di ketinggian 600 meter atau lantai 170, dan ekstra tiga menit di ketinggian 900 meter, hingga empat menit di ketinggian 1.200 meter.

Waktu Iftar di Puncak Gunung

Sudah hari ke-30, Lebaran sudah di depan mata, puasa Ramadan akan segera berakhir. (Ilustrasi: Pexels.com)
Sudah hari ke-30, Lebaran sudah di depan mata, puasa Ramadan akan segera berakhir. (Ilustrasi: Pexels.com)

Salah satu tujuan wisata di Uni Emirat Arab adalah gunung Jebel Jais. Buka puasa di atas gunung di Ras Al Khaimah itu juga butuh waktu ekstra.

Al Jarwan berkata ada enam menit perbedaan antara puncak Jebel Jais dan kota Ras Al Khaimah. Gunung itu memiliki altitude 1.800 meter.

Menurut para astronom, matahari terbit lebih awal dan terbenam lebih lama di altitudo tinggi ketimbang di tempat yang lebih bawah.

"Jadi mereka yang berpuasa akan berbuka enam menit setelah warga yang tinggal di kota Ras Al Khaimah," ujar Al Jarwan.

Saksikan Video Pilihan Berikut: