Walau Tak Ada Bukti Pembekuan Darah Terkait Vaksin COVID-19, AstraZeneca Tetap Lakukan Kajian

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta AstraZeneca menyatakan bahwa mereka akan tetap melakukan kajian terkait laporan pembekuan darah pada penerima vaksin COVID-19 yang mereka kembangkan, sehingga menyebabkan penghentian penggunaan sementara di beberapa negara Eropa.

Meskipun begitu, AstraZeneca mengatakan bahwa hingga saat ini, belum ada bukti yang mengkonfirmasi bahwa kejadian tersebut terkait dengan vaksinasi COVID-19.

"Menyusul kekhawatiran yang muncul baru-baru ini terkait isu trombotik, AstraZeneca memberikan kepastian keamanan vaksin COVID-19 berdasarkan bukti ilmiah yang jelas," tulis mereka dalam siaran pers yang diterima Health Liputan6.com pada Selasa (16/3/2021).

Dalam keterangan resminya, AstraZeneca juga menjawab mengenai adanya penghentian penggunaan batch vaksin tertentu di beberapa negara.

"Dalam hal kualitas, juga tidak ada masalah yang dikonfirmasi terkait dengan batch vaksin kami yang digunakan di seluruh Eropa, atau di seluruh dunia," katanya.

"Pengujian tambahan telah dan sedang dilakukan oleh kami sendiri dan juga secara independen oleh otoritas kesehatan Eropa serta tidak satu pun dari tes ulang ini yang menunjukkan kekhawatiran."

AstraZeneca mengatakan bahwa selama produksi vaksin, lebih dari 60 pengujian kualitas dilakukan oleh AstraZeneca, mitranya, dan lebih dari 20 laboratorium pengujian independen.

"Semua tes perlu memenuhi kriteria ketat untuk kontrol kualitas dan data ini dikirimkan ke regulator di setiap negara ataupun wilayah untuk peninjauan independen sebelum batch apa pun dapat dirilis ke negara-negara tersebut," kata mereka.

Jumlah Kasus Pembekuan Darah Jauh Lebih Rendah

Banner Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)
Banner Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)

Mereka mengatakan, berdasarkan peninjauan data keamanan di lebih dari 17 juta penerima vaksin AstraZeneca di Uni Eropa dan Inggris, produk itu tidak menunjukkan bukti peningkatan risiko emboli paru, trombosis vena dalam (DVT) atau trombositopenia, dalam kelompok usia, jenis kelamin, kelompok tertentu, ata di negara tertentu.

Hingga 8 Maret, AstraZeneca mengatakan bahwa mereka telah menerima 15 kejadian DVT dan 22 kasus emboli paru pada penerima vaksin di Uni Eropa dan Inggris.

Namun, angka itu jauh lebih rendah dibanding angka kejadian pada populasi umum, serta kurang lebih sama dengan vaksin yang lain yang telah mendapatkan izin edar.

"Sekitar 17 juta orang di UE dan Inggris telah menerima vaksin kami, dan jumlah kasus pembekuan darah yang dilaporkan dalam kelompok ini lebih rendah daripada ratusan kasus yang diperkirakan terjadi pada masyarakat umum," kata Ann Taylor, Chief Medical Officer AstraZeneca.

"Pandemi ini telah meningkatkan perhatian dalam kasus individu dan kami akan melakukan upaya lebih dibanding praktik standar dalam memantau keamanan obat-obatan yang diedarkan terkait dengan pelaporan kejadian akibat vaksin, untuk memastikan keamanan publik," kata Taylor.

Dalam uji klinis, meskipun terdapat jumlah kejadian trombotik kecil, angkanya lebih rendah pada kelompok yang divaksinasi. Selain itu tidak ada bukti peningkatan perdarahan di lebih dari 60.000 peserta tes.

Pihak perusahaan pun kembali menegaskan bahwa keamanan bagi seluruh masyarakat akan selalu diutamakan.

"AstraZeneca akan terus mengkaji masalah ini dengan ketat, walaupun bukti yang tersedia tidak mengkonfirmasi bahwa vaksin adalah penyebabnya. Untuk mengatasi pandemi, penting bagi masyarakat untuk melalukan vaksinasi jika diminta oleh pemerintah."

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini