Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, 'Tukang Taman' Jadi Menteri Sosial

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya mengumumkan reshuffle kabinet pada Selasa, 22 Desember 2020. Salah satu sosok yang ditunjuk menduduki menteri di kabinet pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin yaitu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma).

Presiden Jokowi menunjuk Risma menjadi Menteri Sosial. Risma menggantikan Juliari Batubara yang tersandung kasus dugaan korupsi.

"Yang pertama Ibu Trismaharini. Beliau adalah wali kota surabaya, dan saat ini bu Tri Rismaharini ini akan kita berikan tanggung jawab untuk menjadi menteri sosial,” ujar Jokowi, di halaman Istana Merdeka, Selasa (22/12/2020).

Sebelum menjabat sebagai menteri, ia merupakan perempuan pertama yang menjabat sebagai Wali Kota Surabaya. Ia menduduki posisi Wali Kota Surabaya selama dua periode. Ia menjabat Wali Kota Surabaya pada 28 September 2010-28 September 2015. Kemudian ia menjabat Wali Kota Surabaya untuk periode kedua pada masa bakti 2016-2021 bersama Wakil Wali Kota Wisnu Sakti Buana.

Wali Kota Surabaya Risma dikenal sosok pekerja keras, tegas dan mau terjun ke lapangan. Selama menjabat sebagai Wali Kota Surabaya, Risma mengubah Surabaya menjadi kota yang bersih dan indah.

Di bawah kepemimpinan Risma, Surabaya mendapatkan delapan Piala Adipura. Penghargaan ini tak lepas dari kerja keras Risma membenahi Surabaya.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Risma Banyak Membangun Taman di Surabaya

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma). (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma). (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Selama memimpin Surabaya, Risma banyak membangun taman. Salah satu taman yang menjadi pusat perhatian adalah Taman Bungkul. Lewat tangan dingin Risma, Taman Bungkul meraih penghargaan Internasional dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berupa The 2013 Asian Townscape Sector Award pada 2013.

Penghargaan itu juga mendapatkan dukungan dari empat organisasi dunia yakni UN Habitan Regional Office for Asia and The Pacific, Asia Habitat Society, Asia Townscape Design Society dan Fukuoka Asia Urban Research Center.

Risma pun pernah murka ketika tanaman di Taman Bungkul rusak karena kegiatan bagi-bagi es krim pada 2014. Risma dikenal sebagai sosok perempuan yang hobi tanaman dan taman. Ia mencintai lingkungan hijau, bersih dan nyaman. Ia pun menerapkan kebiasaan tersebut di Pemerintahan Kota Surabaya.

Selain itu, bukan tanpa alasan Risma rutin membangun taman dan menanam pohon di Surabaya. Hal ini lantaran tingkat polusi udara di Surabaya memprihatinkan. Oleh karena itu, Risma membangun taman-taman kota yang hijau dan asri. Risma percaya keberadaan taman akan membuat udara lebih segar.

"Semua itu saya awali ketika saya menjabat kepala Dinas Pertamanan. Waktu itu batasan ruangnya itu. Sekarang saya menjadi wali kota, ya saya paksa lebih luas lagi. Artinya bukan hanya taman, tapi saya paksa lebih luas lagi. Kalau kota ini berkembang pesat, itu masyarakatnya karena memiliki pendidikan bagus," ujar Risma pada 2014, seperti dikutip dari Merdeka.

Risma Rutin Tanam Pohon

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) (Foto: Dok Istimewa)
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) (Foto: Dok Istimewa)

Risma mengatakan, saat awal menjabat sebagai Wali Kota Surabaya pada 2010, kondisi wilayah Surabaya sekitar 50 persen alami banjir. Selain itu, suhu udara Surabaya cukup panas.

Ia juga melihat, kondisi tanah yang terkena polusi membuat tanaman tidak bisa tumbuh karena polusi menempel di tanaman dan tanah. Hal itu dijadikan indikator oleh Risma terkait polusi udara.

"Akhirnya saya punya indikator, kalau tanaman bisa tumbuh tapi tidak bisa berbunga pasti karena polusi udara yang besar," ujar Risma, dalam wawancara di program Fokus Indosiar, ditulis Kamis, 8 Agustus 2019.

Risma menambahkan, bila polusi udara mencapai perumahan, hotel, restoran dan fasilitas publik akan dapat ganggu kesehatan masyarakat. Hal itu dinilai tidak ada beda dengan merokok.

"Kalau polusi merambat ke rumah, hotel, restoran, kemudian ke fasilitas publik yang lain maka kemudian itu dihirup oleh kita, kemudian kita sensitif paru-paru, sakit,” kata dia.

Oleh karena itu, Risma membuat jalan di Surabaya penuh dengan tanaman. Ia ingin pohon-pohon dan tanaman yang ada di taman dapat menyerap polusi udara.

"Karena itu, kemudian kenapa saya membuat jalan Surabaya kayak hutan karena saya berprinsip kalau polusi kendaraan harus habis di situ (diserap pohon) supaya tidak lari ke perumahan," kata dia.

Ada 573 Taman di Surabaya

Ilustrasi Taman di Surabaya, Jawa Timur (Foto:Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Ilustrasi Taman di Surabaya, Jawa Timur (Foto:Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Ada 573 taman kota yang tersebar di berbagai titik di Surabaya selama kepemimpinan Risma. Taman ini diharapkan mengurangi polusi udara dan menurunkan suhu di Surabaya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DKRTH Surabaya, Anna Fajriatin menuturkan, luas total taman di seluruh Surabaya hingga 2020 sudah mencapai 1.651,24 hektar. Taman-taman yang dibangun di Surabaya itu berbeda-beda tema dan luasannya.

Di bawah kepemimpinan Risma, luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Surabaya sudah mencapai 7.356,24 hektare atau 21,99 persen dari luas kota. “Jadi di masanya Bu Risma ini, RTH publik kita sudah di atas target minimal, karena memang semua lahan yang bisa dimanfaatkan, kita gunakan untuk RTH. Bisa dilihat di Surabaya ini hijau,” ujar dia, seperti dilansir dari Antara.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini