Wall Street akhiri sesi sibuk pascamusim panas di zona merah

Indeks-indeks utama Wall Street lebih rendah pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), sesi pertama setelah liburan Hari Buruh AS dan liburan musim panas, karena para pedagang menilai data ekonomi baru dalam perdagangan yang bergejolak.

Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 173,14 poin atau 0,55 persen, menjadi menetap di 31.145,30 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 16,07 poin atau 0,41 persen, menjadi berakhir di 3.908,19 poin. Indeks Komposit Nasdaq Composite berkurang 85,96 poin,atau 0,74 persen, menjadi ditutup di 11.544,91 poin.

Di antara sektor utama S&P 500, sektor layanan energi dan komunikasi adalah yang berkinerja terburuk, sementara sektor utilitas defensif dan sektor real estat naik.

Sebuah survei dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan industri jasa-jasa AS meningkat pada Agustus untuk bulan kedua berturut-turut di tengah pertumbuhan pesanan dan lapangan kerja yang lebih kuat, sementara kemacetan pasokan dan tekanan harga mereda.

Namun, angka dari S&P Global menunjukkan Indeks Manajer Pembelian (PMI) sektor jasa jauh dari perkiraan awal untuk Agustus.

Data sektor jasa-jasa AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu ekspektasi bahwa Federal Reserve akan terus menaikkan suku bunga untuk menjinakkan inflasi.

"The Fed telah menurunkan kami menjadi sangat bergantung pada data, sehingga setiap informasi yang keluar investor akan melihat tidak hanya pada tingkat absolut, tetapi mencoba untuk menyimpulkan apa artinya ketika Fed bertemu," kata Carol Schleif, wakil kepala investasi di BMO Family Office.

"Salah satu hal yang membingungkan investor adalah bahwa sangat sedikit untuk mendorong pasar naik atau turun dengan kuat," tambahnya, dikutip dari Reuters.

Kekhawatiran atas pasokan energi ke Eropa dan bagaimana penguncian COVID-19 akan berdampak pada ekonomi China juga mendorong pasar turun pada Selasa (6/9/2022), kata Shawn Cruz, kepala strategi perdagangan di TD Ameritrade. "Banyak ketidakpastian dan volatilitas tidak datang dari AS; itu sebenarnya datang dari luar negeri."

Nasdaq yang sarat teknologi menderita kerugian hari ketujuh berturut-turut, penurunan beruntun terpanjang sejak November 2016.

Saham Amazon.com Inc dan Microsoft Corp yang sensitif terhadap suku bunga turun sekitar 1,0 persen karena imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS naik ke level tertinggi sejak Juni. Apple Inc yang akan meluncurkan iPhone baru pada Rabu depan (14/9/2022), kehilangan 0,8 persen.

Pedagang melihat peluang 74 persen untuk kenaikan suku bunga 75 basis poin ketiga berturut-turut pada pertemuan kebijakan Fed akhir bulan ini, menurut Alat FedWatch CME.

Fokusnya adalah pada pidato Ketua Fed Jerome Powell pada Kamis (8/9/2022) serta data harga konsumen AS minggu depan untuk petunjuk tentang jalur kebijakan moneter.

Pasar memulai September dengan catatan lemah, memperpanjang penurunan yang dimulai pada akhir Agustus, karena komentar hawkish dari pembuat kebijakan Fed dan data yang menandakan momentum ekonomi AS meningkatkan kekhawatiran kenaikan suku bunga yang agresif.

S&P turun hampir 18 persen sepanjang tahun ini, sementara Nasdaq telah turun lebih dari 26 persen karena kenaikan suku bunga merugikan teknologi megacap dan saham-saham pertumbuhan.

Indeks Volatilitas CBOE, yang dikenal sebagai pengukur ketakutan Wall Street, menyentuh level tertinggi hampir dua bulan di 27,80 sebelum ditutup di 26,91.

Bed Bath & Beyond Inc anjlok 18,4 persen setelah Chief Financial Officer Gustavo Arnal jatuh hingga tewas dari gedung pencakar langit Tribeca New York.

Digital World Acquisition Corp jatuh 11,4 persen setelah Reuters melaporkan perusahaan akuisisi cek kosong yang telah setuju untuk bergabung dengan perusahaan media sosial mantan Presiden AS Donald Trump gagal mendapatkan dukungan pemegang saham yang cukup untuk perpanjangan menyelesaikan kesepakatan.

Volume transaksi bursa AS mencapai 10,71 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 10,46 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

Baca juga: Saham Asia datar, investor berhati-hati tunggu aksi suku bunga
Baca juga: Pasar saham Eropa stabil setelah jatuh, Credit Suisse menguat

Baca juga: Wall St hapus kenaikan awal, berakhir melemah di tengah data pekerjaan