Wall Street Beragam Imbas Aksi Ambil Untung Investor

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street mengalami tekanan pada perdagangan saham Jumat waktu setempat. Hal tersebut seiring investor merealisasikan keuntungan dan kenaikan tingkat suku bunga.

Pada penutupan perdagangan wall street, Jumat, 19 Februari 2021, indeks saham Dow Jones bergerak mendatar ke posisi 31.494 setelah naik lebih dari 150 poin pada awal sesi perdagangan. Indeks saham S&P 500 turun 0,19 persen ke posisi 3.906. Indeks saham Nasdaq naik 0,1 persen ke posisi 13.874,46.

Indeks saham acuan di wall street sempat naik tajam pada awal sesi perdagangan. Namun, pelaku pasar merealisasikan keuntungan di sektor saham teknologi dan kenaikan tingkat suku bunga menghapus keuntungan pada perdagangan saham Jumat sore.

Selama sepekan di wall street, indeks saham S&P 500 melemah 0,71 persen. Sementara itu, indeks saham Nasdaq susut 1,57 persen. Indeks saham Dow Jones menguat 0,11 persen.

Saham siklikal mencatat performa baik dengan sektor bahan baku,energi dan industri masing-masing naik 1,8 persen, 1,7 persen dan 1,6 persen. Sedangkan sektor saham utilitas dan barang konsumsi menekan indeks saham.

Menkeu Yellen Sebut Pentingnya Stimulus untuk Bantu Ekonomi AS

Janet Yellen, pemimpin departemen keuangan AS yang ditunjuk oleh presiden terpilih Joe Biden. (Twitter/ @NewYorkFed)
Janet Yellen, pemimpin departemen keuangan AS yang ditunjuk oleh presiden terpilih Joe Biden. (Twitter/ @NewYorkFed)

Indeks saham Russell 2000 menguat dua persen. Sedangkan saham Facebook, Amazon, Netflix dan Microsoft melemah. Saham Apple turun empat persen.

Penguatan saham yang sensitif terhadap ekonomi berdampak setelah Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan, stimulus lebih banyak dibutuhkan untuk meningkatkan pemulihan ekonomi. Stimulus dana USD 1,9 triliun dapat menolong AS untuk mencatat pertumbuhan data tenaga kerja selama setahun.

"Kami pikir penting untuk memiliki paket besar sehingga dapat mengatasi dampak dari tekanan ekonomi. 15 juta orang AS terlambat membayar sewa, 24 juta orang dan 12 juta anak tidak cukup makan, usaha kecil gagal. Saya pikir paket besar manfaatnya akan jauh lebih besar dari pada biaya dalam jangka panjang," ujar Yellen seperti dilansir dari CNBC, Sabtu (20/2/2021).

Reli Pasar Saham Terhenti karena Kekhawatiran Inflasi

Spesialis Michael Mara (kiri) dan Stephen Naughton berunding saat bekerja di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)
Spesialis Michael Mara (kiri) dan Stephen Naughton berunding saat bekerja di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Namun, reli pasar saham terhenti karena kekhawatiran kenaikan suku bunga dan inflasi lebih tinggi. Beberapa investor mengatakan pesimistis terhadap lonjakan suku bunga dan potensi inflasi. Imbal hasil obligasi 10 tahun naik ke level tertinggi dalam satu tahun. Pada Jumat, imbal hasil naik lima poin menjadi 1,34 persen.

“Saya pikir pekan ini investor takut inflasi. Tidak harus dalam jangka pendek, tapi bisa berubah sangat cepat,” ujar Chief Market Strategist TD Ameritrade JJ Kinahan.

Akan tetapi, Yellen menuturkan, inflasi tidak harus menjadi perhatian besar. “Inflasi telah sangat rendah selama lebih dari satu dekade, dan Anda tahu itu adalah risiko, tetapi risiko yang harus ditangani oleh Federal Reserve dan yang lainnya. Risiko lebih besar adalah melukai orang karena pandemi ini menyebabkan korban permanen seumur hidup dan mata pencaharian,” kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini