Wall Street beragam, investor bertaruh tentang pemulihan, Nasdaq turun

Nusarina Yuliastuti
·Bacaan 2 menit

Wall Street beragam pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), di tengah harapan stimulus dan klaim pengangguran yang jatuh mendorong investor menempatkan uang mereka ke sektor-sektor yang paling mungkin mendapatkan keuntungan dari pembukaan kembali ekonomi ketika pulih dari krisis kesehatan global.

Indeks Dow Jones Industrial Average terangkat 114,32 poin atau 0,38 persen, menjadi ditutup pada 30.129,83 poin. Indeks S&P 500 bertambah 2,75 poin atau 0,07 persen, menjadi berakhir di 3.690,01 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup merosot 36,80 poin atau 0,29 persen menjadi 12.771,11 poin.

Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan energi melonjak 2,18 persen, melampaui sektor lainnya. Real estat dan teknologi masing-masing turun 0,96 persen dan 0,85 persen, merupakan dua kelompok dengan kinerja terburuk.

Baca juga: Wall Street beragam setelah Kongres meloloskan paket bantuan COVID-19

Trump pada Selasa (22/12/2020) mengecam anggota parlemen atas paket bantuan COVID-19 senilai 892 miliar dolar AS yang baru disetujui, mengancam untuk tidak menandatangani RUU tersebut jika perubahan tidak dilakukan untuk meningkatkan jumlah bantuan tunai langsung.

DPR dan Senat AS sama-sama menyetujui paket bantuan pada Senin malam (21/12/2020) setelah berbulan-bulan negosiasi, mengirimkannya ke presiden untuk ditandatangani menjadi undang-undang.

Trump mengatakan ingin Kongres meningkatkan jumlah stimulus bantuan langsung tunai menjadi 2.000 dolar untuk individu atau 4.000 dolar untuk pasangan, menyebut 600 dolar untuk individu "sangat rendah." Menurut RUU saat ini, sebuah keluarga beranggotakan empat orang akan menerima hingga 2.400 dolar.

Baca juga: Saham Inggris naik hari kedua, indeks FTSE 100 menguat 0,66 persen

Amerika Serikat telah mendaftarkan lebih dari 18,3 juta kasus COVID-19 yang dikonfirmasi dengan sekitar 325.000 kematian terkait pada Rabu sore (23/12/2020), penghitungan oleh Universitas Johns Hopkins menunjukkan, keduanya merupakan angka tertinggi di dunia.

Sementara itu, data menunjukkan bahwa wabah virus telah berdampak pada pasar tenaga kerja negara itu dan mengancam pemulihan ekonominya.

Klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur PHK, mencapai 803.000 pada pekan yang berakhir 19 Desember, menyusul revisi naik 892.000 pada pekan sebelumnya, Departemen Tenaga Kerja melaporkan Rabu (23/12/2020). Tingkatnya tetap jauh di atas sebelum pandemi.