Wall Street Beragam, Investor Menanti Data Inflasi Mei 2021

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street cenderung bervariasi pada perdagangan Senin, 7 Juni 2021. Indeks saham acuan berjuang mencapai rekor tertinggi setelah pekan lalu catat kenaikan.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham S&P 500 turun sekitar 0,1 persen menjadi 4.226,52. Sektor saham bahan baku dan industri alami kerugian terbesar sehingga membebani indeks S&P 500.

Indeks Dow Jones melemah 126,15 poin atau 0,4 persen menjadi 34.630,24. Indeks saham Nasdaq naik 0,5 persen ke posisi 13.881,72.

Saham meme kembali menjadi sorotan pada pekan ini. Saham AMC reli sebanyak 25 persen pada Senin pekan ini, dan ditutup hampir 15 persen lebih tinggi.

Sementara saham GameStop dan BlackBerry juga naik dua digit. Sebagian besar saham spekulatif ini tergelincir ke zona merah pada Jumat pekan lalu meski ada kenaikan besar setelah perdagangan yang bergejolak.

Indeks saham acuan utama keluar dari kenaikan selama sepekan di tengah meningkatnya optimisme pembukaan kembali ekonomi.

Indeks saham S&P 500 naik 0,6 persen pekan lalu sehingga mendorong indeks saham acuan tersebut menguat lebih dari 12 persen selama 2021. Indeks saham Nasdaq dan Dow Jones juga membukukan kenaikan pada pekan lalu.

"Saham telah kembali naik ke wilayah rekor tertinggi seiring laju pemulihan ekonomi tampaknya seimbang,” ujar Chief Market Technician Piper Sandler, Craig Johnson dikutip dari CNBC, Selasa (8/6/2021).

Ia menambahkan, sebagian besar tanda-tanda kenaikan inflasi telah diimbangi oleh meningkatnya prospek sementara langkah the Federal Reserve.

Di sisi lain, saham Visa naik pada awal setelah ada rekomendasi kenaikan saham oleh Piper Sandler. Laporan pekerjaan pada Jumat pekan lalu menunjukkan tingkat pengangguran turun menjadi 5,8 persen dari 6,1 persen dan tambahan pekerjaan 559.000 pada Mei 2021.

Laporan tersebut dipandang cukup kuat untuk menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi, tetapi cukup ringan menjaga the Federal Reserve agar tidak terburu-buru mengubah kebijakan moneter yang longgar.

Investor Fokus Data Inflasi

Steven Kaplan (tengah) saat bekerja dengan sesama pialang di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)
Steven Kaplan (tengah) saat bekerja dengan sesama pialang di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)

Selain itu, investor fokus pada data inflasi pekan depan dengan indeks harga konsumen (IHK) dijadwalkan akan dirilis pada Mei 2021.

Pada April 2021, CPI naik 4,2 persen dari tahun sebelumnya, kenaikan tercepat sejak 2008. Jika indeks harga konsumen terus naik, hal itu dapat menyebabkan the Federal Reserve mundur dari kebijakan moneternya yang longgar.

Pada akhir pekan lalu, negara-negara G7 mencapai kesepakatan tentang reformasi pajak global menyerukan perusahaan-perusahaan terbesar di dunia untuk membayar setidaknya 15 persen pajak atas penghasilan mereka. Perusahaan-perusahaan besar termasuk Facebook dan Google telah menanggapi kesepakatan tersebut dengan baik.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini