Wall Street Bervariasi, Indeks Saham S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street beragam pada perdagangan saham Senin, 26 April 2021. Akan tetapi, indeks saham S&P 500 catat rekor baru seiring investor bersiap menghadapi musim laporan keuangan kuartal I 2021.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham S&P 500 naik 0,2 persen ke posisi 4.187,62. Indeks saham Nasdaq menguat 0,9 persen ke posisi 14.138,78. Penguatan itu mendorong indeks saham Nasdaq sentuh level rekor terbaru sejak 12 Februari 2021.

Indeks saham Dow Jones melemah 61,92 poin atau 0,2 persen ke posisi 33.981,57. Hal itu didorong dari Procter and Gamble, Walmart dan Coca Cola. Sektor saham konsumsi mencatat penurunan terbesar pada awal pekan dengan turun lebih dari satu persen.

Penurunan sektor saham konsumsi di tengah harga komoditas yang melonjak sehingga memicu kekhawatiran inflasi. Harga jagung berjangka catat level tertinggi baru lebih dari tujuh tahun seiring perdagangan saham yang bergejolak.

Sementara itu, harga tembaga menguat ke level tertinggi dalam hampir 10 tahun. Harga komoditas termasuk biaya terbesar untuk sektor konsumsi.

Data Bank of America menunjukkan angka inflasi melonjak dibandingkan tahun lalu. Lonjakan tersebut terbesar sejak 2004.

Dengan ekonomi global mulai buka secara bertahap, perusahaan seperti Boeing, Ford dan Caterpillar bakal catat tekanan biaya yang dihadapi seiring harga bahan dan transportasi yang naik.

"Inflasi menjadi salah satu topik terbesar selama musim laporan keuangan. Bahan baku, transportasi buruh dan sebagainya, merupakan pendorong inflasi dan banyak berencana menaikkan harga untuk menghadapi tingginya biaya," ujar Head of US Equity and Quantative Strategy Bank of America, Savita Subramanian, dilansir dari CNBC, Selasa (27/4/2021).

Saham Tesla Menguat

Logo Tesla
Logo Tesla

Saham Tesla menguat lebih dari satu persen setelah produsen mobil listrik ini melaporkan hasil kinerja. Investor juga akan hadapi rilis laporan keuangan raksasa perusahaan teknologi termasuk Apple, Microsoft, Amazon dan Alphabet.

25 persen perusahaan di indeks saham S&P 500 sudah melaporkan kinerja kuartal I 2021, 84 persen mencatat laba bersih per saham yang positif secara mengejutkan dan 77 persen melaporkan kinerja pendapatan.

“Pertumbuhan masih meningkat, dan likuiditas berlimpah. Pasar yang positif tetap utuh,” ujar Chief Cross Asset Strategist Morgan Stanley, Andrew Sheets.

Jika 84 persen adalah persentase akhir, itu akan menjadi persentase tertinggi dari perusahaan indeks S&P 500 yang melaporkan kejutan EPS yang positif sejak FacSet mulai melacak metrik ini pada 2008.

The Fed Bakal Gelar Pertemuan Pekan Ini

Gubernur BI Perry Warjiyo berdiskusi dengan Ketua Dewan Pengurus Bank Sentral AS (Chairman of the Federal Reserve), Jerome Powell, di sela-sela pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia, di Bali (13/10/2018). (Ilyas/Liputan6.com)
Gubernur BI Perry Warjiyo berdiskusi dengan Ketua Dewan Pengurus Bank Sentral AS (Chairman of the Federal Reserve), Jerome Powell, di sela-sela pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia, di Bali (13/10/2018). (Ilyas/Liputan6.com)

Hasil kuartal pertama yang kuat disambut dengan hangat dari investor. Para ahli mengatakan, valuasi sudah tinggi dan hampir mencapai rekor tertinggi pada indeks saham S&P 500 dan Dow Jones telah menahan antusiasme para pelaku pasar. Kedua indeks berada dalam satu persen dari posisi tertinggi sepanjang masa.

"Terlepas dari laporan pendapatan yang kuat yang kami lihat sejauh ini, pasar benar-benar mengambil langkah dengan tenang di tengah valuasi yang sudah tinggi,” ujar Direktur Pelaksana E-Trade, Chris Larkin.

Selain itu, data ekonom yang keluar pada awal pekan ini seperti pesanan baru untuk barang modal menunjukkan kenaikan dari yang diharapkan pada Maret.

Departemen Perdagangan menyatakan, pesanan untuk barang modal non pertahanan tidak termasuk pesawat naik 0,9 persen pada bulan lalu, meleset dari perkiraan Dow Jones yang naik 2,2 persen.

Pada pekan ini, the Federal Reserve atau bank sentral AS akan mempertahankan kebijakannya untuk membiarkan inflasi menjadi panas, sambil meyakinkan pasar kalau kenaikan harga hanya bersifat sementara. The Federal Reserve akan melakukan pertemuan pada Selasa dan Rabu pekan ini.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini