Wall Street Bervariasi, Investor Cermati Data Inflasi AS

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street cenderung mendatar pada perdagangan Selasa, 1 Juni 2021. Hal tersebut didorong sentimen pembukaan kembali ekonomi menghadapi ancaman kegelisahan mengenai inflasi dan tekanan harga.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham Dow Jones naik 45,86 poin atau 0,13 persen ke posisi 34.575,31. Sebelumnya indeks Dow Jones sempat menguat 300 poin. Indeks S&P 500 turun kurang dari 0,1 persen ke posisi 4.202,04 didorong pelemahan saham teknologi. Indeks Nasdaq melemah 0,1 persen ke posisi 13.736,48.

Indeks Nasdaq tergelincir didorong sejumlah saham teknologi yang tertekan antara lain saham Microsoft susut 0,9 persen saham Adobe turun 1,7 persen dan saham Apple melemah 0,26 persen.

Investor mulai aktivitas perdagangan pada Juni dengan menemui kasus COVID-19 yang terus turun dan vaksinasi meningkat di Amerika Serikat.

Hal tersebut menjadi milestone, dan lebih dari setengah populasi di AS telah menerima satu dosis vaksin COVID-19. Demikian data disampaikan the Centers for Disease Control and Prevention.

Situasi COVID-19 domestik yang membaik ditambah dengan datangnya cuaca musim panas, memicu kenaikan kuat lainnya dalam pembukaan perdagangan wall street seperti perjalanan dan perhotelan.

Saham American Airlines dan United Airlines masing-masing naik 1,7 persen dan 2,2 persen setelah Administrasi Keamanan Transportasi mengatakan menyaring rata-rata 1,78 juta orang dari Jumat hingga Senin, jauh di atas volume satu tahun lalu dan tanda lain perjalanan udara Amerika Serikat telah mencapai kinerja tinggi selama era pandemi COVID-19.

Volume tersebut lebih dari enam kali lebih tinggi dari tahun lalu tetapi masih 22 persen di bawah akhir pekan Memorial Day pada 2019.

Pergerakan Indeks Acuan

Director of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)
Director of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Sementara itu, produsen pesawat Boeing naik 3,1 persen setelah seorang analis merekomendasikan beli saham saat masih di harga bawah yang diperdagangkan pada awal 2020.

Saham operator pelayaran Carnival Corp dan Norwegian Cruise Line Holdings masing-masing melonjak dua persen dan 2,7 persen.

Di sisi lain, saham meme AMC Entertainment baik setelah jaringan bioskop tersebut menjual USD 230,5 juta saham baru kepada seorang investor. Saham AMC Entertainment naik 22 persen pada perdagangan Selasa waktu setempat.

Indeks saham Dow Jones dan S&P 500 masing-masing naik 1,9 persen dan 0,55 persen pada Mei 2021. Ini menunjukkan indeks acuan positif dalam empat bulan berturut-turut. Indeks Russell 2000 naik 0,11 persen pada Mei 2021.

Indeks kapitalisasi saham kecil ini membukukan bulan positif selama delapan bulan berturut-turut dan mencatat rekor kenaikan positif secara bulanan yang terpanjang sejak 1995.

Indeks Nasdaq naik 2,06 persen pada pekan lalu sehingga membukukan kinerja terbaik sejak April 2021. Namun, indeks teknologi tersebut turun 1,53 persen pada Mei, dan memecahkan rekor kenaikan selama enam bulan berturut-turut.

Kekhawatiran terhadap Inflasi

Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)
Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Terlepas dari angka COVID-19 yang lebih baik, investor tetap khawatir tentang potensi pergerakan inflasi yang lebih tinggi dan berkelanjutan. Harga lebih tinggi akibat kekurangan pasokan dan pulihnya permintaan dapat memaksa the Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga dan mengekang pembelian aset lebih cepat.

Adapun indeks pengeluaran konsumsi pribadi inti naik 3,1 persen pada April dari tahun sebelumnya lebih cepat cepat dari perkiraan kenaikan 2,9 persen. Terlepas dari data inflasi yang lebih panas dari perkiraan, imbal hasil treasury turun pada Jumat pekan lalu.

"Secara keseluruhan, mengingat reaksi pasar terhadap rilis PCE, kekhawatiran investor tentang inflasi mungkin telah dibesar-besarkan dan mungkin sudah diperhitungkan,” ujar Direktur Pelaksana Goldman Sachs, Chris Hussey, dilansir dari CNBC, Rabu (2/6/2021).

Ia menambahkan, konsensus mungkin membangun inflasi yang dilihat hari ini adalah inflasi baik. “Jenis kenaikan harga yang menyertai percepatan pertumbuhan, bukan kesalahan kebijakan moneter,” kata dia.

Selain itu, investor sedang menanti pertemuan the Federal Reserve yang dijadwalkan pada 15-16 Juni 2021. Kunci bagi pasar adalah apakah the Federal Reserve mulai percaya inflasi lebih tinggi dari yang diharapkan. Selain itu, ekonomi cukup kuat untuk maju tanpa begitu banyak dukungan moneter.

Laporan ketenagakerjaan Mei yang akan dirilis pada Jumat akan memberikan pembacaan utama ekonomi. Menurut Dow Jones, ekonom memperkirakan sekitar 674.000 pekerjaan diciptakan pada Mei setelah 266.000 pekerjaan ditambahan jauh lebih sedikit dari perkiraan pada April 2021.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel