Wall Street Cetak Rekor Setelah Kerusuhan di Capitol

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Kamis, 7 Januari 2021. Hal ini seiring pelaku pasar mengabaikan kerusuhan di Washington, AS pada Rabu waktu setempat.

Pelaku pasar melihat implikasi kebijakan dari pemerintahan AS yang akan datang. Sentimen positif lainnya yang dukung wall street yaitu optimisme lebih banyak stimulus di bawah pemerintahan Partai Demokrat.

Indeks saham S&P 500 naik lebih dari satu persen hingga mencapai rekor tertinggi. Demikian juga Dow Jones yang juga naik ke level intraday. Indeks Nasdaq bahkan melompat lebih dari dua persen dan menembus di atas level 13.000, dan mencapai rekor tertinggi baru.

Indeks saham Nasdaq naik 2,6 persen ke posisi 13.067,48. Penguatan indeks saham Nasdaq didukung saham Microsoft dan Alphabet naik lebih dari dua persen. Sedangkan saham Apple menguat 3,4 persen.

Indeks saham Dow Jones mendaki 211,73 poin atau 0,7 persen ke posisi 31.041,13. Indeks saham S&P 500 menguat 1,5 persen ke posisi 3.803,79.

Credit Suisse pun menargetkan indeks saham S&P 500 meningkat pada 2021 seiring prospek stimulus yang membaik. Indeks saham S&P 500 menjadi 4.200 dari 4.050.

Saham Wallgreens Boots Alliance naik 5,2 persen sehingga mendorong indeks saham Dow Jones lebih tinggi. Selain itu, saham JPMorgan Chase juga menguat 3,3 persen setelah analis Bank of America menaikkan rekomendasi beli dari netral.

Sedangkan sektor saham teknologi dan consumer masing-masing naik 2,7 persen dan 1,8 persen sehingga mendukung kenaikan indeks saham S&P 500.

Pada Rabu waktu setempat, pendukung Trump menyerbu Capital AS tepat ketika anggota parlemen memulai proses penghitungan suara electoral college dan secara resmi mengumumkan Biden sebagai pemenang. Namun, wall street menguat dengan indeks saham Dow Jones dan S&P 500 ditutup menguat pada Rabu seiring pelaku pasar melihat prosek stimulus fiskal lebih besar.

"Seharusnya tidak ada misteri mengapa pasar tidak peduli dengan apa yang terjadi di Washington pada Rabu. Betapa pun itu menganggu, memalukan. Itu karena tidak ada hubungannya dengan arah ekonomi, pendapatan dan tingkat bunga sesederhana itu,” ujar Chief Investment Officer Bleakley Advisory Group, Peter Boockvar, seperti dikutip dari CNBC, Jumat (8/1/2021).

Sentimen Lain Pengaruhi Wall Street

Ekspresi spesialis Michael Pistillo (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)
Ekspresi spesialis Michael Pistillo (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Kongres berkumpul kembali untuk melanjutkan proses konfirmasi kemenangan Presiden Terpilih AS Joe Biden setelah gedung Capitol diamankan. Presiden AS Donald Trump pun mengeluarkan pernyataan setelah Kongres konfirmasi Biden akan ada transisi pada 20 Januari.

“Saya pikir alasan pasar tidak terlalu bingung adalah itu tidak akan mengubah transisi kekuasaan,” ujar Pendiri Fundstrat Global Advisors Tom Lee, seperti dilansir dari CNBC.

Hasil pemilu Georgia membuat senat 50-50 akan dikontrol oleh Partai Demokrat. Diharapkan Senat yang dikuasai Demokrat akan mendorong paket stimulus yang lebih kuat. Spekulasi tersebut mendorong penguatan bursa saham AS.

Chief Market Strategist TD Ameritrade JJ Kinahan menuturkan, hasil pemilu memberikan investor kejelasan lebih dengan memperkuat kendali Demokrat di Washington dan meningkatkan harapan stimulus lebih besar.

“Dengan meredanya ketegangan politik, lebih banyak stimulus diharapkan dapat membantu mendorong ekonomi, dan vaksin COVID-19 membantu membawa ketenangan bagi investor dan pedagang. Tampaknya pasar sekarang fokus untuk musim laporan keuangan,” ujar dia.

Di sisi lain, klaim pengangguran awal masuk 787.000 pada akhir Desember 2020. Ekonom prediksi 815.000. Sentimen di wall street lainnya juga dorongan dari indeks aktivitas manufaktur AS yang naik menjadi 57,2 pada Desember dari 55,9 pada November.