Wall Street Kembali Cetak Rekor, Indeks Dow Jones Naik 2 Persen dalam Sepekan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street kembali mencetak rekor baru pada perdagangan saham Jumat, 9 April 2021. Pelaku pasar optimisme dengan pembukaan kembali ekonomi menjadi sentimen positif di pasar. Bahkan wall street mampu menguat selama sepekan.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham Dow Jones menguat 297.03 poin ke posisi 33.800,60, dan merupakan level rekor tertinggi.

Indeks saham S&P 500 naik 0,8 persen menjadi 4.128,80, dan tiga kali berturut-turut cetak rekor. Indeks saham Nasdaq mendaki 0,5 persen menjadi 13.900,19.

Saham yang berhubungan dengan pemulihan ekonomi seiring ada program vaksinasi COVID-19 memimpin penguatan. Saham Carnival Corp naik 2,6 persen. Saham General Electric menanjak lebih dari satu persen, dan saham JP Morgan menguat 0,8 persen.

Selama sepekan, indeks saham Dow Jones naik dua persen. Indeks saham S&P 500 menguat 2,7 persen, dan mencatatkan kinerja terbaik sejak awal Februari.

Indeks saham Nasdaq reli 3,1 persen. Saham Apple lompat lebih dari delapan persen pada pekan ini. Sementara itu, saham Amazon dan Alphabet naik lebih dari enam persen.

Di sisi lain,data ekonomi menunjukkan inflasi menguat pada Maret 2021. Indeks harga produsen (PPI) naik 1 persen dibandingkan survei ekonom 0,4 persen. Year over year (YoY), PPI naik 4,2 persen, dan kenaikan terbesar lebih dari sembilan tahun.

"Inflasi menguat. Kita akan melihat apakah perusahaan merespons kepada konsumen. Yang saya dengar dari perusahaan, prosesnya baru mulai,” ujar Chief Investment Officer Bleakley Advisory Group, Peter Boockvar, dilansir dari CNBC, Sabtu (10/4/2021).

Investor Abaikan Lonjakan Klaim Pengangguran

Ekspresi spesialis Michael Pistillo (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)
Ekspresi spesialis Michael Pistillo (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun menguat 1,6 persen karena data inflasi. Sebelumnya awal pekan ini, imbal hasil obligasi AS cenderung alami koreksi.

Selain itu, volatilitas pasar saham juga menurun dengan indeks saham S&P 500 tetap mencatat rekor. Indeks Cboe atau dikenal the VIX berada di bawah 20 dalam delam sesi perdagangan. Indeks ini mengukur kekhawatiran pelaku pasar di wall street. Indeks VIX di bawah 17 pada Jumat pekan ini.

“Berlawanan dengan berita utama, kenaikan imbal hasil, level inflasi yang sehat dan dan akhirnya suku bunga the Fed tidak selalu negatif untuk pasar. Faktanya kinerja tahunan indeks S&P 500 berada di atas rata-rata di bawah masing-masing dinamika ini selama pertumbuhan ekonomi tetap kuat, yang kami yakini akan terjadi,” ujar Chief Investment Officer di Raymond James, Larry Adam.

Investor sebagian besar mengabaikan lonjakan tak terduga dalam klaim pengangguran pada Kamis pekan lalu. Departemen Tenaga Kerja melaporkan klaim pengangguran berjumlah 744.000. Angka ini jauh dari harapan 694.000 berdasarkan survei kepada ekonom.

Pada Kamis pekan ini, ketua the Federal Reserve Jerome Powell menyebut kalau pemulihan ekonomi dari pandemi COVID-19 tidak merata. Hal ini menunjukkan diperlukan pemulihan yang lebih kuat.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini