Wall Street Melemah Imbas Investor Menanti Rilis Data Inflasi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan saham Senin, 12 April 2021. Hal itu seiring investor menanti rilis data inflasi dan dimulainya laporan keuangan perusahaan kuartal I 2021.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham S&P 500 kurang dari satu poin menjadi 4.127,99 setelah ditutup pada rekor tertinggi sebelumnya.

Indeks saham Dow Jones melemah 55,20 poin atau 0,2 persen ke posisi 33.745,40. Saham Intel alami penurunan terbesar di indeks Dow Jones. Indeks saham Nasdaq susut 0,4 persen menjadi 13.850.

Wall street relatif tenang dengan indeks saham S&P 500 bergerak satu persen selama lima sesi berturut-turut. Gejolak pasar telah menurun ke level sebelum pandemi COVID-19 di tengah meningkatnya optimisme pembukaan kembali ekonomi.

Indeks volatilitas CBOE atau VIX yang mengukur kekuatiran pasar telah diperdagangkan di bawah 18 selama empat hari terakhir, level yang tidak terlihat sejak Februari 2020.

Saham Nuance Communications melonjak hampir 16 persen setelah Microsoft mengumumkan akan membeli perusahaan pengenalan suaan itu senilai USD 16 miliar. Akuisisi Nuance merupakan akuisisi terbesar Microsoft sejak membeli Linkedln senilai lebih dari USD 26 miliar pada 2016.

Saham Nvidia melonjak 5,6 persen setelah raksasa chip itu mengatakan, pendapatan kuartal I untuk fiskal 2022 akan berada di atas dari perkiraan yang diberikan sebelumnya. Perseroan mengharapkan permintaan terus melebihi pasokan pada 2021.

Saham Carnival dan Norwegian Cruise Line masing-masing turun lebih dari empat persen seiring ada potensi pelemahan meski ekonomi kembali dibuka. Saham United Airlines susut 3,9 persen setelah maskapai mengatakan pendapatan kuartal pertamanya diperkirakan turun 66 persen dibandingkan periode sama pada 2019.

"Di tengah level tertinggi baru, tidak mengherankan jika pasar bergerak agak dalam pola bertahan akhir-akhir ini,” ujar Chris Larkin, Direktur Pelaksana Produk Perdagangan dan Investasi E-Trade, dilansir dari CNBC, Selasa, (13/4/2021).

Hadapi Rilis Laporan Keuangan Kuartal I dan Data Inflasi

Spesialis Michael Mara (kiri) dan Stephen Naughton berunding saat bekerja di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)
Spesialis Michael Mara (kiri) dan Stephen Naughton berunding saat bekerja di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Ia menambahkan, semua mata kemungkinan akan tertuju pada rilis data inflasi yang dirlis Selasa, 13 April 2021. Hal ini untuk melihat kondisi terbaru mengenai inflasi.

“Dan tentu saja musim laporan keuangan yang bisa menjadi katalisator pergerakan pasar selama beberapa minggu ke depan,” ujar Chris.

Musim laporan keuangan kuartal I 2021 dimulai pekan ini dengan harapan ditetapkan untuk berita positif secara luas dan tren naik untuk bursa saham AS berkat pemulihan ekonomi.

Bank terbesar di AS termasuk Goldman Sachs dan JP Morgan Chase akan melaporkan kinerja kuartal I 2021 yang berakhir pada 31 Maret 2021.

Pekan ini juga akan diwarnai dengan pidato the Federal Reserve dan data ekonomi utama termasuk rilis inflasi yang diantisipasi investor. Ekonom perkirakan inflasi 0,5 persen month over month (MoM).

Saham Tesla naik 3,7 persen menjadi di atas USD 700 setelah Canaccord Genunitu meningkatkan target harga menjadi USD 1.071. Hal itu didorong sentimen inovasi baterainya.

The Fed Sebut Ingin Melihat Inflasi di Atas 2 Persen

Gubernur BI Perry Warjiyo berdiskusi dengan Ketua Dewan Pengurus Bank Sentral AS (Chairman of the Federal Reserve), Jerome Powell, di sela-sela pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia, di Bali (13/10/2018). (Ilyas/Liputan6.com)
Gubernur BI Perry Warjiyo berdiskusi dengan Ketua Dewan Pengurus Bank Sentral AS (Chairman of the Federal Reserve), Jerome Powell, di sela-sela pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia, di Bali (13/10/2018). (Ilyas/Liputan6.com)

Di sisi lain, Ketua The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menegaskan kembali pihaknya ingin melihat inflasi naik di atas dua persen untuk periode yang diperpanjang sebelum pejabat the Fed bergerak untuk menaikkan suku bunga.

“Kami ingin melihat inflasi bergerak hingga 2 persen, dan yang kami maksudkan secara berkelanjutan, kami tidak bermaksud hanya mengetuk basisnya sekali, tetapi kemudian kami juga ingin melihatnya bergerak di atas 2 persen,” ujar Powell.

Dia menambahkan, di tengah peluncuran vaksin COVID-19 yang dipercepat dan dukungan fiskal yang kuat, ekonomi AS tampaknya berada pada titik balik. Powell juga akan kembali berbicara pada acara Economic Club of Washington pada Rabu pekan ini.

Sementara itu, investor juga akan mengawasi upaya Presiden AS Joe Biden untuk memajukan proposal infrastruktur besar yang dikenal sebagai the American Jobs Plan.

Biden bersama anggota Partai Demokrat lainnya menjanjikan perbaikan infrastruktur yang signifikan dalam pemilu 2020. Ia mencari dukungan dari sekelompok anggota parlemen bipartisan untuk mencoba membujuk Capitol Hill mendukung paket USD 2 triliun.

Kongres akan kembali ke Washington minggu ini. Kongres kembali ke Washington untuk pertama kali sejak Biden meluncurkan proposalnya yang mengalokasikan ratusan miliar dolar AS untuk jalan, jembatan, bandara, broadband, kendaraan listrik, perumahan dan pelatihan kerja.

Rencana presiden AS juga akan menaikkan tarif pajak perusahaan menjadi 28 persen dan menindak strategi penghindaran pajak luar negeri lainnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini