Wall Street melemah, lonjakan virus pukul saham perjalanan dan energi

Nusarina Yuliastuti
·Bacaan 3 menit

Wall Street melemah untuk hari kedua berturut-turut pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), karena lonjakan global dalam kasus virus corona memukul saham-saham terkait perjalanan dan energi, serta investor berubah pikiran tentang laba bank-bank besar AS yang tampak luar biasa minggu lalu.

Indeks Dow Jones Industrial Average tergerus 256,33 poin atau 0,75 persen, menjadi ditutup di 33.821,30 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 28,32 poin atau 0,68 persen, menjadi menetap di 4.134,94 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir merosot 128,50 poin atau 0,92 persen, menjadi 13.786,27 poin.

Tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dengan sektor energi dan keuangan masing-masing merosot 2,66 persen dan 1,81 persen, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor utilitas terangkat 1,32 persen, merupakan kelompok dengan kinerja terbaik.

Baca juga: Wall Street dibuka turun di tengah banyak laporan laba

Kansas City Southern melejit 15,2 persen karena prospek perang penawaran setelah Canadian National menawarkan sekitar 30 miliar dolar AS untuk jalan kereta api AS, sekitar lima miliar dolar AS lebih banyak daripada tawaran sebelumnya yang diberikan Canadian Pacific.

Boeing Co jatuh 4,1 persen karena kepergian tak terduga dari kepala keuangannya, kejutan terbaru yang menghantam pembuat pesawat saat berjuang untuk pulih dari pandemi dan krisis 737 MAX.

Investor masuk ke sektor-sektor defensif yang dianggap relatif aman selama masa ketidakpastian ekonomi, mengangkat real estat, utilitas, kebutuhan pokok konsumen dan perawatan kesehatan ketika saham-saham keuangan dan energi turun tajam.

Baca juga: Virus melonjak di India, harga minyak jatuh dari tertinggi satu bulan

Saham operator penerbangan dan kapal pesiar termasuk JetBlue Airways, American Airlines, Norwegian Cruise Line dan Carnival Corp, yang terpukul tahun lalu selama lockdown tetapi baru-baru ini naik karena harapan pembukaan kembali, turun lebih dari 4,0 persen.

JPMorgan Chase & Co, Bank of America Corp, Citigroup Inc dan Wells Fargo & Co memimpin penurunan saham keuangan karena analis menilai kembali laporan laba mereka, kata Dick Bove, analis riset senior di Odeon Capital Group.

Perubahan akuntansi tentang bagaimana melaporkan jumlah cadangan pinjaman membengkakan angka-angka jika dibandingkan dengan tahun lalu, katanya.

"Orang-orang berasumsi bahwa ini adalah kuartal gangbuster untuk industri perbankan, padahal itu jauh dari kebenaran," kata Bove, menambahkan keuntungan paruh kedua diperkirakan akan sangat kuat.

Baca juga: Saham Inggris berakhir negatif, indeks FTSE 100 terpangkas 2,00 persen

Beberapa optimisme baru-baru ini tentang industri perjalanan juga telah memudar karena pembukaan kembali mungkin memakan waktu sedikit lebih lama dari yang diperkirakan, kata Michael James, direktur pelaksana perdagangan ekuitas di Wedbush Securities di Los Angeles.

“Kami belum keluar dari masalah dalam hal virus COVID dan menuju ke tempat ekonomi global dibuka kembali,” katanya. Beberapa dari antusiasme itu telah berkurang.

Seorang ahli epidemiologi terkemuka di Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan pada Senin (19/4/2021), kenaikan terbaru infeksi COVID-19 di seluruh dunia mencerminkan peningkatan di antara semua kelompok umur.

United Airlines Holdings Inc mencatat penurunan terbesar, jatuh 8,5 persen pada S&P 500 setelah melaporkan kerugian bersih yang disesuaikan lebih besar dari perkiraan dan mendorong indeks maskapai S&P 1500 anjlok 4,6 persen.

Saham penyedia layanan streaming video Netflix Inc, yang berkembang pesat selama penguncian tahun lalu, turun 0,9 persen menjelang laporan keuangannya setelah bel penutupan.

Analis memperkirakan laba kuartal pertama dari perusahaan S&P 500 melonjak 31,5 persen dari setahun sebelumnya, menurut data Refinitiv IBES.

Wall Street mencapai rekor tertinggi pekan lalu karena investor bertaruh pada saham-saham seperti industri dan penambang yang dipandang mendapat manfaat dari rebound ekonomi, sementara saham teknologi bernilai tinggi mendapatkan kembali dukungannya setelah penurunan imbal hasil obligasi.