Wall Street Menguat Imbas Data Klaim Pengangguran Menurun

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Kamis, 27 Mei 2021. Wall street didukung kenaikan indeks saham Dow Jones dan S&P 500 seiring investor merespons positif data tenaga kerja lebih baik dari harapan seiring klaim pengangguran menurun.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham Dow Jones naik 141,59 poin atau 0,4 persen ke posisi 34.464,64. Indeks saham S&P 500 menguat 0,1 persen ke posisi 4.200,88.

Indeks saham Nasdaq cenderung flat ke posisi 13.736,28. Saham Boeing menguat 3,9 persen seiring optimisme terhadap pemulihan ekonomi.

Namun, kenaikan untuk pasar secara keseluruhan dibatasi karena investor melepas saham teknologi dan mengganti dengan saham siklikal. Saham Microsoft, Alphabet dan Apple mengalami kerugian.

Klaim pengangguran awal turun menjadi 406.000, mencapai titik terendah di tengah pandemi COVID-19. Hal itu berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja AS.

Ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan total klaim pengangguran 425.000 orang hingga pekan yang berakhir 22 Mei 2021.

"Klaim pengangguran telah dalam tren menurun, dan angka pekan ini menandai posisi terendah selama pandemi COVID-19,” ujar Head of North American Capital Market Validus Risk Management, Ali Jaffari, dilansir dari CNBC, Jumat (28/5/2021).

Ia menambahkan, seiring kemajuan ekonomi AS dengan program vaksinasi dan langkah-langkah pembukaan kembali lapangan kerja dan partisipasi angkatan kerja diharapkan meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Gerak Saham di Wall Street

Director of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)
Director of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Dalam laporan terpisah, Departemen Perdagangan tetap mempertahankan perkiraan awal produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I-2021 di posisi 6,4 persen.

Saham Snowflake turun 4,2 persen setelah perusahaan perangkat lunak analisis data melaporkan kerugian yang semakin melebar.

Saham Nvidia merosot 1,3 persen, bahkan setelah laba dan penjualan raksasa chip itu mengalahkan ekspektasi wall street pada kuartal I.Pendapatannya tumbuh 88 persen dibandingkan tahun lalu.

Saham meme melonjak pekan ini di tengah kebangkitan perdagangan saham yang spekulatif. Saham GameStop naik 4,8 persen. Saham AMC Entertainment menghapus keuntungan sebelumnya dan kembali naik 35 persen.

Saham Ford menguat tujuh persen setelah RBC meningkatkan rekomendasi saham. Saham Ford naik 8 persen pada Rabu, 26 Mei 2021 setelah meluncurkan strategi kendaraan listriknya.

Perdagangan Sepi

Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)
Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Di sisi lain, Kamis, 27 Mei 2021 waktu setempat, Senat Republik mengumumkan penawaran infrastruktur USD 928 miliar. Penawaran biaya itu lebih rendah dibandingkan proposal Presiden AS Joe Biden sebesar USD 1,7 triliun.

Partai Republik kembali menolak seruan Biden untuk menaikkan pajak perusahaan dengan alasan dapat menutupi biaya infrastruktur dengan dana yang sudah dialokasikan oleh Kongres atau dengan biaya pengguna transportasi.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen meminta para pemimpin kongres untuk meningkatkan pengeluaran. Ia menuturkan, pengeluaran yang disesuaikan dengan inflasi tetap stagnan selama 11 tahun.

Selain itu, perdagangan relatif sepi jelang Memorial Day. Pergerakan Kamis ini mengikuti sesi yang relatif tenang di wall street.

"Pasar ekuitas sepi karena investor harus mengantisipasi langkah The Fed selanjutnya. Volatilitas rendah dan volume perdagangan rendah sering terjadi dalam seminggu menjelang lebaran," ujar Chief Investment Research di Nationwide, Market Hackett.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel