Wall Street Menguat Imbas Lonjakan Saham Apple Cs

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melonjak pada perdagangan saham Senin, 22 Maret 2021 yang dipicu saham teknologi. Investor berbondong-bondong kembali ke saham yang berpotensi tumbuh di tengah penurunan imbal hasil obligasi.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham Nasdaq naik 1,2 persen menjadi 13.377,54 didorong imbal hasil obligasi tenor 10 tahun turun.

Indeks saham S&P 500 menguat 0,7 persen menjadi 3.940,59 dan memecahkan penurunan beruntun dua hari. Indeks saham Dow Jones naik 103,23 poin atau 0,3 persen menjadi 32.731,20.

Saham Tesla naik 2,3 persen karena suku bunga turun. Selain itu, investor Ark Fund Cathie Wood mengeluarkan target baru saham Tesla yang naik empat kali lipat dalam empat tahun.

Saham Apple, Microsoft, dan Netflix masing-masing naik dua persen. Sementara itu, Amazon dan Facebook masing-masing naik lebih dari satu persen.

Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun turun lima basis poin menjadi 1,68 persen setelah menyentuh level tertinggi dalam 14 bulan. Pergerakan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dalam beberapa pekan terakhir telah menimbulkan kekhawatiran tentang valuasi saham teknologi.

"Setelah tingkat suku bunga turun dan pembukaan kembali ekonomi memudar, investor akan beralih kembali ke saham teknologi kapitalisasi besar dengan arus kas yang kuat, pendapatan berulang dan meningkatkan penetrasi pengguna," ujar Chief Investment Officer Treasury Partners, Richard Saperstein, dilansir dari CNBC, Selasa (23/3/2021).

Program Vaksinasi COVID-19 Jadi Sentimen Positif

Ekspresi spesialis David Haubner (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)
Ekspresi spesialis David Haubner (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)

Selain itu, industri juga mendapat dorongan setelah New York Times melaporkan Presiden AS Joe Biden mengincar kesepakatan infrastruktur dengan pengeluaran sebanyak USD 3 triliun untuk mendongkrak ekonomi.

Sebagian besar perusahaan wall street termasuk Goldman Sachs mengharapkan sekitar USD 2 triliun untuk belanja infrastruktur. Saham Caterpillar menguat setelah rilis berita tersebut dan ditutup naik 0,3 persen.

Indeks saham acuan kembali naik setelah alami tekanan karena lonjakan imbal hasil obligasi. Indeks saham Dow Jones dan S&P 500 masing-masing turun 0,5 persen dan 0,8 persen pada pekan lalu. Indeks saham Nasdaq susut 0,8 persen.

Namun, optimisme tentang pasar dan pemulihan ekonomi telah tumbuh saat vaksin diluncurkan di seluruh negeri seiring laju warga AS mendapatkan suntikan meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Data uji coba AS yang dirilis Senin menunjukkan vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh AstraZenecca dan Universitas Oxford efektif 79 persen dalam mencegah gejalan penyakit dan 100 efektif melawan penyakit parah dan rawat inap.

Di sisi lain, banyak pelaku pasar di wall street percaya lonjakan imbal hasil obligasi seharusnya tidak terlalu mengkhawatirkan mengingat besarnya pemulihan ekonomi dari resesi yang dipicu pandemi COVID-19.

“Kami yakin kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah baru-baru ini yang dipimpin oleh imbal hasil riil dapat dibenarkan dan mencerminkan kebangkitan pasar terhadap perkembangan positif untuk aktivitas yang lebih cepat dari perkiraan yang dipadukan dengan stimulus fiskal yang besar secara historis, semua dibantu oleh peningkatan program vaksinasi COVID-19 di AS,” ujar Wei Li, Global Chief Investment Strategist BlackRock Investment Institute.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini