Wall Street Merosot, Investor Menanti Data Inflasi AS Mei 2021

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan Rabu, 9 Juni 2021 seiring pelaku pasar berjuang untuk keluar dari posisi yang ketat.Pelaku pasar menanti data inflasi Mei 2021.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones turun 152,68 poin atau 0,4 persen menjadi 34.447,15. Indeks Dow Jones mencatat koreksi selama tiga hari berturut-turut. Indeks S&P 500 melemah 0,2 persen menjadi 4.219,55 di bawah posisi tertinggi intraday pada 7 Mei 2021. Indeks Nasdaq merosot 0,1 persen menjadi 13.911,75.

Sektor industri dan keuangan mencatat penurunan terbesar di antara 11 sektor saham S&P 500 sehingga menekan bursa saham. Kenaikan saham meme berlanjut pada perdagangan Rabu, 9 Juni 2021.

Kali ini kenaikan dialami saham Clean Energy Fuels yang naik lebih dari 31 persen. Saham Clover Health mendaki lebih dari 85 persen pada sesi sebelumnya, dan turun 23 persen pada perdagangan Rabu waktu setempat.

Namun, banyak orang di wall street percaya saham meme terbaru harus tetap berisi beberapa nama, tidak seperti hiruk pikuk perdagangan GameStop pada Januari yang berdampak ke pasar yang lebih luas.

"Melihat rendahnya risiko penularan yang luas, kami melihat dampak dari tekanan singkat baru-baru ini adalah terbatas,” ujar Global Head of Equity Derivatives Barclays, Maneesh Deshpande dalam catatannya dilansir dari CNBC, Kamis (10/6/2021).

Investor Menanti Data Inflasi

Director of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)
Director of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Di sisi lain, investor menanti rilis data inflasi Mei 2021 untuk mengukur apakah tekanan harga yang lebih tinggi hanya bersifat sementara. Hal ini lantaran ekonomi terus pulih dari resesi yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.

"Saham sebagian besar telah terjebak dalam kisaran yang mendatar sejak pertengahan April dan sepertinya tidak akan pecah dalam waktu dekat. Investor ingin melihat bagaimana tekanan harga yang panas atau inflasi dan seberapa banyak penurunan saham terjadi setelah tamper tantrum the Fed dimulai," ujar Analis Oanda, Edward Moya.

Indeks harga konsumen atau the consumer price index (CPI) pada Mei akan dirilis pada Kamis pekan ini. Ekonom mengharapkan CPI naik 4,7 persen dari tahun sebelumnya, menurut Dow Jones. Pada April, CPI meningkat 4,2 persen secara tahunan, dan alami kenaikan tercepat sejak 2008.

Dari sisi data, lowongan pekerjaan pada April 2021 melonjak ke rekor tertinggi baru dengan 9,3 juta lowongan di tengah pemulihan ekonomi.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel