Walmart tarik promosi untuk game kekerasan namun masih jual senjata

New York (AP) - Walmart telah memerintahkan para pekerja untuk menarik iklan permainan video yang menggambarkan kekerasan dari toko mereka di seluruh negeri setelah 22 orang tewas dalam penembakan di salah satu tokonya di Texas, tetapi pengecer besar itu akan terus menjual senjata.

Dalam memo internal, pengecer itu mengatakan kepada karyawan untuk menghapus materi pemasaran yang keras, mencabut konsol Xbox dan PlayStation yang menampilkan video game kekerasan dan mematikan tayangan segala bentuk kekerasan di layar elektronik yang dijual di toko itu.

Karyawan juga diminta untuk mematikan video musim berburu di departemen peralatan olahraga tempat senjata dijual. "Tarik dari penjualan atau matikan barang-barang ini segera," kata memo itu.

Walmart masih akan menjual video game kekerasan dan belum membuat perubahan pada kebijakan penjualan senjata, meskipun ada tekanan dari pekerja, politisi dan aktivis untuk melakukannya.

"Kami telah mengambil tindakan ini untuk menghormati insiden pekan lalu," kata juru bicara Walmart, Tara House dalam surat elektronik. Dia menolak untuk menjawab pertanyaan apa pun di luar pernyataan itu.

Para pencela memuji langkah itu sebagai isyarat kosong yang bertujuan untuk membelokkan kritik alih-alih menyelesaikan masalah.

"Itu bukan jawaban dan bukan penyelesaian," kata Thomas Marshall, yang bekerja di divisi e-commerce Walmart di San Bruno, California, dan telah membantu mengorganisir petisi untuk membuat perusahaan berhenti menjual senjata. Dia mengatakan mereka berencana untuk mengirim petisi melalui surat elektronik, yang memiliki lebih dari 53.000 tanda tangan, kepada CEO Walmart, Doug McMillon pada Jumat.

Setelah pembantaian di El Paso Walmart akhir pekan ini, McMillon mengatakan perusahaan itu "akan bijaksana dan mempertimbangkan tanggapan kami."

Setelah penembakan massal di sekolah menengah atas Parkland, Florida, tahun lalu, Walmart Inc. melarang penjualan senjata api dan amunisi kepada orang-orang yang berusia di bawah 21 tahun. Mereka berhenti menjual AR-15 dan senjata semi-otomatis lainnya pada 2015, dengan alasan penjualan yang sedikit.

Presiden Donald Trump menyalahkan "video game yang mengerikan dan buruk" sebagai hal yang mendorong kekerasan pada Senin, tetapi tidak ada hubungan yang diketahui antara video game kekerasan dan tindakan kekerasan.

Pembantaian El Paso diikuti oleh penembakan lain beberapa jam kemudian di Dayton, Ohio, yang menewaskan sembilan orang.

Amerika Serikat telah mencatat 254 penembakan massal — dengan empat orang atau lebih yang ditembak - pada tahun 2019, menurut Arsip Kekerasan Senjata.

Scott Galloway, seorang profesor pemasaran di New York University, mengatakan langkah untuk menyembunyikan citra kekerasan di toko adalah "upaya murah untuk mengalihkan perhatian konsumen dan media dari masalah sebenarnya, yaitu, Walmart terus menjual senjata."

Pengguna media sosial juga mengecam langkah tersebut, dan #BoycottWalmart menjadi tren di Twitter Jumat.

Perusahaan lain telah membuat perubahan setelah penembakan. ESPN menunda penayangan kompetisi esports untuk permainan menembak "Apex Legends." Dan NBC Universal menarik beberapa iklan untuk film terbarunya "The Hunt," yang menggambarkan sejumlah karakter saling berburu dan menembak.

Pembunuhan telah membuat negara itu berada di ujung tanduk.

Pada Kamis, pembeli yang panik melarikan diri dari Walmart di Springfield, Missouri, setelah seorang pria yang membawa senapan dan mengenakan pelindung tubuh berjalan di sekitar toko sebelum dihentikan oleh petugas pemadam kebakaran yang sedang tidak bertugas. Tidak ada tembakan dan pria itu ditangkap setelah menyerah.

Pada Jumat, Senator Massachusetts Elizabeth Warren, seorang Demokrat yang mencalonkan diri sebagai presiden, mengecam Walmart dalam sebuah cuitan.

"Senjata yang mereka jual membunuh pelanggan dan karyawan mereka sendiri. Tidak ada keuntungan yang sepadan dengan nyawa mereka. Lakukan hal yang benar — berhenti menjual senjata," tulisnya.