Walubi Tetap Dukung Hartati Sebagai Ketua Umum

INILAH.COM, Jakarta - Meski tengah menjalani proses hukum mengenai kasus dugaan suap pengurusan izin HGU di Kabupaten Buol, namun dukungan tetap mengalir terhadap Hartati Murdaya. Bahkan perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) tetap mendukung Hartati Murdaya sebagai Ketua Umum.

Dukungan tersebut dinyatakan sebagai bentuk bantahan atas aksi sekelompok orang yang mengatasnamakan umat Buddha Indonesia dan melakukan aksi di depan kantor KPK, Senin (30/7/2012) lalu. Kelompok tersebut meminta Hartati mundur dari jabatan sebagai Ketua Umum DPP Walubi.

Namun menurut  Wakil Sekjen DPP Walubi, Gatot Sukarno Hadi, semua majelis agama Budha yang tergabung dalam Walubi tetap mendukung Hartati. Gatot menegaskan bahwa Walubi beranggotakan sebanyak 12 majelis agama Buddha, sehingga kelompok-kelompok di luar 12 majelis tersebut bukanlah anggota Walubi.

"Sekali lagi yang mengeluarkan pernyataan agar ibu Hartati mundur, bukan dari Walubi. Kami 12 majelis yang tergabung di dalam Walubi tetap solid mendukung beliau sebagai Ketua Umum,” kata Gatot didampingi para bhiksu dan pimpinan 12 majelis agama Buddha yang bernanung di bawah Walubi di kantor DPP Walubi, Rabu (1/8/2012).

Para pimpinan 12 majelis agama Buddha, lanjut Gatot, meminta umat Buddha Indonesia tidak terpancing isu miring segelintir provokator yang mendeskreditkan Ketua Umum Walubi, Hartati Murdaya.

Gatot menegaskan Hartati Murdaya adalah seorang praktisi Bodhisatvayana yang telah giat melaksanakan pengendalian diri dan melakukan banyak kebajikan melalui bakti sosial di berbagai daerah, sehingga beliau dikenal dan dicintai oleh masyarakat luas.

Sebagai Ketua Umum Walubi, Hartati telah banyak mengabdi dan membimbing banyak organisasi Buddhis dan umat Buddha untuk saling menghormati, tumbuh berkembang dan non intervensi antar sekte dan majelis agama Buddha Indonesia. “Kearifan dan kebajikan Hartati pun bukan hanya dirasakan dan dikagumi umat Buddha Indonesia, melainkan juga dikagumi oleh para tokoh dan umat Buddha Internasional,” katanya.[dit]

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.