Wamen Nasaruddin Terseret di Dakwaan Korupsi Quran  

TEMPO.CO , Jakarta:Jaksa penuntut pengadilan tindak pidana korupsi proyek pengadaan Al-Quran menyebut nama Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar dalam dakwaan terhadap tersangka Zulkarnaen Djabar dan Dendy Prasetya. Dia dikaitkan dalam penentuan pemenang proyek pengadaan Al-Quran tahun anggaran 2011.

Jaksa menjelaskan, dalam proses pelelangan pengadaan Alquran itu, Zulkarnaen mengintervensi Nazaruddin yang saat itu Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Dia mengintervensi Sekretaris Direktorat Jenderal Bimas, Abdul Karim. Ini dilakukan agar PT Adhi Aksara Indonesia menang dalam pengadaan tersebut.

Menurut jaksa Wiraksajaya, pada 28 September 2011, Dendy menghubungi agar Zulkarnaen memberitahu Nasaruddin bahwa posisi PT Adhi digeser menjadi nomor dua. "Sedangkan yang nomor satu percetakan lain," katanya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin, 28 Januari 2013.

Atas permintaan Dendy itu, Zulkarnaen menghubungi Nasaruddin. Pria yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Kemenag itu kemudian meminta Zulkarnaen memberi masukan. Nazaruddin lalu meminta Fahd bertemu langsung dengan Ketua Unit Layanan Pengadaan, Mashuri. "Terdakwa I (Zulkarnaen) juga meminta Nasaruddin Umar agar memberikan sinyal pada Mashuri, dan Nazaruddin mengatakan 'ya'," katanya.

Keesokannya, Zulkarnaen kemudian menghubungi Sesditjen Bimas, Abdul Karim, dan mengatakan bahwa dia sudah berbicara dengan Nasaruddin terkait hal itu. "Jangan sampai ada sabotase yang dilakukan oleh orang-orang nonmuslim," ucap dia.

Selain Nazaruddin, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso disebut terlibat.

NUR ALFIYAH

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.