Wamen PUPR Sidak Jalan Trans Papua Ruas Jayapura-Wamena

Fikri Halim, Aman Hasibuan (Papua)
·Bacaan 3 menit

VIVA – Jembatan penghubung jalan trans Papua ruas Jayapura-Wamena terputus akibat mengalami kerusakan atau amblas. Kendaraan yang menggunakan jalur darat menuju Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya pun tak bisa lewat.

Hal itu terungkap saat Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI, John Wempi Wetipo melakukan inspeksi mendadak (sidak) pembangunan jalan trans Jayapura-Wamena pada Senin, 11 Januari 2021. Pada sidak itu, John menelusuri jalan hingga kilometer 320 tepatnya di Kampung Ruja, Distrik Benawa, Kabupaten Yalimo.

Dalam perjalanan, John menemukan beberapa jalan aspal yang diberikan garis pembatas lantaran mengalami kerusakan atau amblas di Distrik Senggi dan Waris.

Tak hanya itu, di Distrik Airu ada tiga titik jalan yang sangat sulit dilalui karena tekstur jalannya berlumpur. Selain itu juga ditemukan jembatan-jembatan semi permanen yang tak dapat dilalui.

"Saya mendapat banyak laporan dari masyarakat, jadi saya ingin tahu. Selama ini kan proses lelangnya beberapa kali gagal, namun progresnya seperti apa. Memang tidak gampang karena total jaraknya 580 kilo dari Jayapura sampai Wamena. Nah, setelah sampai di kilometer 320 ini kita baru bisa tahu kendalanya apa," kata John.

Dia menjelaskan, beberapa titik jalan di Distrik Airu memang sulit dilalui walau sudah dibuat pengalihan jalan untuk menghindari kubangan lumpur. Namun sangat disayangkan, kondisi itu tidak diakali dengan baik oleh pekerja, padahal ada banyak material batu dan kayu yang bisa digunakan untuk menutupi lumpur.

"Saya berkesimpulan bahwa orang-orang yang bekerja ini tidak ikhlas. Ini kan dibiayai oleh negara, saya harap bisa konsisten. Saya minta Satker dan PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) tolong awasi pemenang. Kalau ada jembatan rusak seharusnya dengan kesadaran sendiri diperbaiki tidak perlu tunggu perintah," ujarnya.

John berharap, konsultan pengawas bisa mengawasi dengan baik pembangunan jalan trans Jayapura-Wamena sebab banyak temuan penyelewengan terjadi akibat konsultan pengawas tak pernah ada di tempat.

"Kita punya kasus di beberapa tempat karena konsultan pengawasnya tidak pernah ada, lalu volume pekerjaannya dikurangi dan akhirnya jadi temuan. Saya berharap kehadiran saya di sini menjadi semangat untuk teman-teman di Balai Jayapura untuk benar-benar mengawasi para pelaksana konsisten bekerja," paparnya.

Kepala Balai Jembatan dan Jalan Jayapura, Eduard Sasarari menjelaskan, jembatan penghubung yang rusak panjangnya sekitar 55 meter, berada di Kali Edan kilometer 392. Diduga kerusakan jembatan akibat curah hujan yang cukup tinggi hingga terkena longsoran.

"Itu jembatan sementara dengan rangka belly, untuk sementara kami akan melewati jalur sungai ke sana. Jembatannya sudah satu minggu tidak bisa dilalui, tapi kita akan segera kerjakan, satu dua hari sudah bisa dilalui kembali," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah I Jayapura Papua, Asniati menambahkan, jembatan Kali Edan jatuh terkena longsoran dan pada saat yang sama tersapu banjir.

"Saat ini kami sudah mengusahakan membuka akses dengan membersihkan longsoran," paparnya.

Asniati menerangkan, batas kerja Balai Jembatan dan Jalan Jayapura hanya sampai di kilometer 320 Kampung Ruja, selebihnya masuk wilayah Balai Wamena. Sedangkan jembatan Kali Edan berada di wilayah Balai Wamena. Hanya saja masuk dalam kontrak paket jembatan Balai Jayapura.

Ia menambahkan, kontrak paket jembatan yang ada di jalan trans Jayapura-Wamena ini ada 8, sebagian jembatan berada di lokasi penanganan Balai wilayah Wamena.

“Itu sudah kesatuan kontrak dan tidak bisa dipisah. Makanya jembatan Kali Edan kami bisa masuk, meski secara lokasi masuk dalam di wilayah Balai Wamena,” ungkapnya.