Wamenaker lepas keberangkatan 287 PMI ke Jepang dalam skema "G to G"

Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Afriansyah Noor melepas 287 pekerja migran Indonesia (PMI) lewat skema program penempatan antar-pemerintah (government to government/G to G) ke Jepang.

"Atas nama Pemerintah Indonesia, saya sampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah Jepang yang telah memberikan kesempatan bagi PMI untuk memperoleh pengalaman bekerja di Jepang melalui program G to G. Kami juga mengajak pemerintah Jepang untuk meningkatkan investasi bidang pelatihan kerja di Tanah Air," kata Wamenaker Afriansyah dalam keterangan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang diterima di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Penempatan tenaga berketerampilan spesifik ke Jepang akan dipercepat

Dalam pelepasan 287 PMI untuk program IJEPA Batch ke-15 ke Jepang pada Rabu (22/6), Afriansyah mengatakan kerja sama dalam penempatan PMI tersebut akan lebih komprehensif apabila dirangkai dengan kerja sama dalam bidang pelatihan pekerja.

"Oleh karena itu, saya ingin mengajak Pemerintah Jepang untuk meningkatkan investasi dalam bidang pelatihan kerja di Indonesia," tuturnya.

Dia meyakini kerja sama antara Indonesia dan Pemerintah Jepang saling menguntungkan dan saat ini begitu banyak investasi Jepang di Indonesia, baik dalam bidang otomotif, perdagangan, industri, jasa, dan sektor lainnya.

Baca juga: Apjati dorong pemerintah capai target 70.000 PMI ke Jepang

Baca juga: BP2MI ajak milenial Sumsel manfaatkan program kerja ke Jepang

"Saya yakin cukup banyak benefit yang diperoleh Jepang dari investasi di berbagai bidang, baik dalam bidang otomotif, perdagangan, industri, jasa, dan bidang lainnya," ucap Wamenaker.

Dia mengharapkan dari kesempatan bekerja ke Jepang tersebut, dapat memberikan pengalaman yang bermanfaat serta berbagai pengetahuan untuk tenaga kerja Indonesia (TKI) tentang karakter kerja seperti masyarakat Jepang.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel