Wamendag: Indonesia siap hadapi resesi ekonomi

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengemukakan Indonesia siap menghadapi resesi ekonomi jika merujuk pada kinerja sektor perdagangan selama masa pandemi COVID-19.

“Indikator paling nyata, hingga September 2022, neraca perdagangan Indonesia masih surplus 39,87 miliar USD (dolar Amerika Serikat) pada September 2022,” katanya saat menjadi pembicara pada seminar “Bisa Ekspor” di Palembang, Kamis malam, yang turut dihadiri oleh Direktur Sumber Daya Pertahanan Ditjen Pothan Kementerian Pertahanan RI Brigjen TNI Farid Amran.

Saat pandemi, katanya, sektor perdagangan tak pernah mengalami penurunan, justru tetap tumbuh dan bahkan surplus.

Padahal saat itu, semua negara mengalami tekanan karena sama sekali tak pernah menyangka pandemi memapar hampir 200 negara di dunia.

Baca juga: Wamendag pastikan sektor perdagangan amankan ekonomi nasional

Aktivitas perdagangan Indonesia yang terpantau dari kinerja ekspor, katanya, justru mengalami kenaikan atau tak pernah defisit.

Berkaca dari kondisi lampau itu, Jerry optimistis Indonesia mampu menghadapi resesi yang saat ini menjadi momok dunia.

Ada faktor yang menurutnya tak dapat dikesampingkan, yakni kemampuan Indonesia untuk meningkatkan porsi ekspor berupa produk industri.

Saat ini tercatat 70 persen produk ekspor merupakan produk industri, yang sama artinya Indonesia sudah melakukan hilirisasi atau tak lagi hanya menjual barang mentah.

“Ini adalah kekuatan Indonesia untuk menjaga ketahanan negara,” kata dia.

Baca juga: Wamendag sebut 9,7 juta pedagang UMKM transaksi lewat QRIS

Direktur Sumber Daya Pertahanan (Dirsumdahan) Ditjen Pothan Kementerian Pertahanan RI Brigjen TNI Farid Amran mengatakan adanya keinginan kuat Presiden Joko Widodo agar Indonesia tak sebatas mengekspor barang mentah itu, salah satu upaya menjaga ketahanan negara.

Indonesia memberlakukan pelarangan ekspor biji nikel sejak 1 Januari 2020 yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2019.

“Bahan tambang kita itu merupakan bahan baku untuk membuat senjata, bisa dibayangkan jika setelah jadi senjata di negara lain justru dipakainya untuk menyerang negara kita. Ini tentu sesuatu yang tidak bisa diterima,” kata dia.

Oleh karena itu, semua pihak harus menyadari bahwa tak ada satu negara pun yang bisa luput dari ancaman perang.

Seperti perang Ukraina dan Rusia, katanya, meski lokasi jauh dari Indonesia tetapi faktanya negara ini juga turut merasakan dampaknya.

"Oleh karena itu, walaupun Indonesia menggenjot ekspor untuk meningkatkan devisa negara tapi tetap menjadikan kebutuhan dalam negara sebagai hal utama wujud ketahanan negara," kata dia.

Baca juga: Wamendag lansir peran pemerintah ciptakan rantai nilai global hijau
Baca juga: Wamendag: Regulasi dan perkembangan ekonomi digital RI kompetitif