Wamendag lepas ekspor sarang burung walet dan produk singkong Sumut

Budi Suyanto
·Bacaan 1 menit

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Jerry Sambuaga, di Medan, Sabtu melepas ekspor sarang burung walet dan keripik singkong Sumatera Utara senilai Rp27,29 miliar

"Pemerintah mengapresiasi pelaku usaha yang tetap semangat meningkatkan ekspornya di tengah pandemi COVID-19 seperti yang dilakukan PT Ori Ginalnest Indonesia dan PT Alpha Gemilang Sejahtera, " ujarnya di Medan, Sabtu.

PT Ori Ginalnest Indonesia mengekspor sarang burung walet ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) senilai Rp24,29 miliar dan PT Alpha Gemilang Sejahtera ekspor produk berbasis singkong senilai Rp3 miliar ke Korea Selatan.

Baca juga: Indonesia bukukan Rp2,2 triliun dari Konferensi Sarang Burung Walet

Dia menegaskan, peningkatan ekspor menjadi perhatian besar Presiden Joko Widodo dengan tujuan untuk meningkatkan devisa, mempertahankan pekerja dan mengenalkan produk Indonesia termasuk produksi UMKM.

"Yang paling menggembirakan neraca perdagangan luar negeri Indonesia pertama hari ini (Sabtu, red) surplus 13,5 miliar dolar AS. Masih bisa surplus di tengah pandemi COVID-19," katanya.

Sumut sendiri, kata Jerry memberikan kontribusi besar dalam total nilai ekspor Indonesia.

Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, menyebutkan, Pemprov Sumut siap untuk terus membantu eksportir khususnya UMKM.

"Sebagai Gubernur Sumut, saya siap membantu pengusaha, termasuk soal. keluhan pengusaha produk olahan singkong tentang keterbatasan lahan untuk penanaman singkong," katanya.

Baca juga: Kementan siap kawal aturan ekspor sarang burung walet ke Australia

Gubernur juga berharap, ekspor Sumut semuanya dalam produk jadi agar semakin memiliki nilai tambah.

CEO PT Ori Ginalnest Indonesia, Rusianah, mengatakan, ekspor sarang burung walet termasuk salah satu komoditas yang tidak terpengaruh dengan pandemi COVID-19.

"Volume ekspor Ori Ginalnest Indonesia hingga Oktober 2020 sudah 28 ton dari 2019 yang masih 26,6 ton," katanya.

Direktur Utama, PT Alpha Gemilang Sejahtera, Ujiana Sianturi mengatakan, permintaan produk singkong masih terus ada khususnya dari Malaysia dan Korea Selatan.

"Permintaan masih tetap ada, tetapi memang ada penurunan volume dan harga jual," katanya.