Wamenkes dorong hasil riset digunakan fasilitas kesehatan

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono mendorong agar hasil riset yang dilakukan perguruan tinggi dapat digunakan oleh fasilitas kesehatan.

“Kami mengapresiasi diluncurkannya kit diagnostik demam berdarah dengue (DBD) pada hari ini, karena ini menunjukkan bahwa hasil riset tidak hanya sekadar jurnal, tetapi produk yang dipakai oleh fasilitas kesehatan,” ujar Dante pada peluncuran kit diagnostik DBD yang dipantau di Jakarta, Selasa.

Dia menambahkan kit diagnostik itu bersifat praktis, murah dan mudah digunakan. Selain itu, adanya kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi, industri dan praktisi klinis.

Baca juga: FKUI luncurkan alat tes diagnostik dini dan cepat DBD

“Produk ini juga diproduksi di dalam negeri, saya berharap produk ini dapat diproduksi secara massal,” ucapnya.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) meluncurkan alat tes diagnostik dini dan cepat DBD, yakni rapid diagnostic test (RDT) protein NS-1.

Alat tes cepat tersebut merupakan hasil penelitian dari lintas program studi UI, yakni Beti Ernawati Dewi, Leonard Nainggolan, Fithriyah, Andriansjah Rukmana, Evy Suryani, dan Hidayati Desti.

Ketua Tim Peneliti, Beti Ernawati mengatakan setiap tahun kasus DBD terus meningkat, bahkan saat pandemi COVID-19 pun, kasus DBD mencapai angka 100.000 kasus.

Baca juga: BPPT - Kimia Farma kerja sama komersialisasi Kit Rapid Test DBD

Baca juga: Deteksi DBD mudah dengan kit diagnostik

Selama ini, lanjut Beti, infeksi akibat gigitan nyamuk itu sering terlambat untuk dikenali, karena gejala klinis tidak spesifik. Penatalaksanaan infeksi virus dengue diawal infeksi sebelum masuk fase kritis akan menurunkan risiko kematian pasien.

“Deteksi dini dapat mengidentifikasi adanya virus dengue, sehingga dapat segera dilakukan fogging untuk memutus mata rantai penyebaran virus dengue itu,” kata Beti.