Wamenkes: Posyandu akan jadi ujung tombak penurunan AKI dan AKB

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono menyampaikan Posyandu akan menjadi ujung tombak untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) yang masih tinggi di Indonesia.

“Kemenkes melakukan transformasi kesehatan dan memetakan percepatan program AKI dan AKB sesuai dengan enam pilar transformasi yang salah satunya dan yang paling penting adalah transformasi layanan primer,” katanya dalam Seminar Online FKM UI, Selasa.

Wamenkes Dante menuturkan berdasarkan audit maternal dan perinatal tingkat nasional, sebagian besar intervensi penurunan AKI dan AKB hanya bisa dilakukan dan targetnya hanya bisa tercapai jika dilakukan integrasi di layanan primer.

Baca juga: Penurunan AKI perlu menjadi prioritas nasional

Oleh karena itu, Kemenkes tengah melakukan transformasi kesehatan dan memetakan percepatan program AKI dan AKB sesuai dengan enam pilar transformasi yang salah satunya dan yang paling penting adalah transformasi layanan primer.

“Untuk memperluas cakupan primer tersebut kita melakukan ekspansi perpanjangan tangan menjadi 300.000 posyandu dan posyandu prima. Bayangkan kalau ATM layanan kesehatan itu lebih banyak maka lebih banyak masyarakat yang bisa terakses oleh layanan kesehatan tersebut,” ucapnya.

Posyandu prima nantinya akan terdiri dari minimal 2 tenaga kesehatan yakni 1 bidan dan 1 perawat yang akan memiliki sarpas standar untuk menyediakan layanan dan peran sebagai lembaga kemasyarakatan dasar kesehatan.

Baca juga: Penurunan AKI di Jateng lampaui target

Kemenkes telah menyusun 7 program intervensi utama dan saat ini tengah dilakukan piloting posyandu prima di 9 lokasi yakni di Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, NTTN, NTB, Maluku dan Papua.

Lebih lanjut Wamenkes Dante menyampaikan bahwa Kementerian Kesehatan tidak bisa bekerja sendiri dalam menurunkan AKI dan AKB dan membutuhkan peran akademisi profesi dan masyarakat umum untuk menurunkan angka AKI dan AKB yang menjadi prioritas dalam RPJMN dan SDGs di masa yang akan datang.

Akademisi diharapkan melakukan riset dalam implementasi posyandu dan posyandu prima. Profesi kesehatan melakukan pelaksanaan program percepatan penurunan AKI dan AKB di layanan primer dan layanan rujukan, serta masyarakat umum mendukung penyebarluasan edukasi terkait penurunan AKI dan AKB.

Baca juga: Bidan garda depan penurunan angka kematian ibu

“Itu semua bisa berjalan, kita bisa dapatkan Indonesia lebih kuat dan lebih sehat dengan memperkuat ketahanan primer sebagai salah satu ujung tombak bagi penurunan dan peningkatan mutu kesehatan ibu dan anak Indonesia untuk masa depan,” tuturnya.

Adapun saat ini AKI mencapai 305 kasus per 100.000 kelahiran dan ditargetkan turun menjadi 183 kasus per 100.000 kelahiran pada 2024. Kemudian AKB mencapai 24 per 1.000 kelahiran dan pada 2024 diharapkan dapat menjadi 16 kasus per 1.000 kelahiran.