Wamenkeu: EBT Bukan Lagi Pilihan, Sumber Tapi Energi Masa Depan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) di dunia, khususnya Indonesia sudah bukan menjadi pilihan. Melainkan sebagai arah kebijakan penggunaan energi yang selama ini menggunakan fosil sebagai bahan bakarnya.

"Penggunaan energi baru terbarukan ini bukan lagi pilihan tetapi arah ke depan," kata Suahasil dalam acara diskusi bertajuk Energi Terbarukan: Sudut Pandang, Supply-Demand, Keterjangkauan, Tarif, Reliability dan Akses, Jakarta, Kamis (21/10).

Suahasil menjelaskan kebutuhan energi di masa depan akan terus bertambah dan tidak bisa hanya mengandalkan fosil yakni batubara sebagai sumber energi. Apalagi emisi karbon yang dihasilkan juga tidak baik untuk lingkungan.

"Kebutuhan energi kita memang banyak tapi kalau mengandalkan dari fosil ini enggak akan pernah cukup," kata dia.

Maka penggunaan EBT menjadi pilihan yang harus dikaji. Namun, kata Suahasil yang perlu diingat dalam transisi penggunaan EBT, dimulainya tidak dari titik nol lagi. Indonesia sudah menggunakan berbagai sumber untuk menghasilkan energi.

"Kalau kita mau manfaatin ini, kita enggak berangkat dari titik 0 karena kita punya seperangkat energi mix," kata dia.

Selain itu, pandemi Covid-19 juga turut menyumbangkan tantangan. Sebab selama 1,5 tahun terakhir penggunaan energi mengalami penurunan. Mobilitas manusia yang terbatas selama pandemi ini membuat permintaan penggunaan energi menurun. Akibatnya kebutuhan energi yang dimiliki PLN menjadi berlebih.

"Karena kegiatan ekonomi menurun, permintaan listrik juga turun drastis, sehingga saat ini listrik kita over suplai," kata dia.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Suplai Energi

PLTB ini bisa mengaliri listrik 360 ribu pelanggan 450 KV. Proyek ini bagian dari proyek percepatan pembangunan pembangkit 35.000 MW, sekaligus bagian dari upaya Pemerintah mencapai target bauran energi nasional 23 persen dari EBT pada 2025.
PLTB ini bisa mengaliri listrik 360 ribu pelanggan 450 KV. Proyek ini bagian dari proyek percepatan pembangunan pembangkit 35.000 MW, sekaligus bagian dari upaya Pemerintah mencapai target bauran energi nasional 23 persen dari EBT pada 2025.

Secara umum kelebihan suplai energi memang mengalami kelebihan. Namun persentase setiap daerahnya berbeda-beda. Ada daerah yang kelebihan energinya tinggi dan ada juga yang sedang dan rendah. Untuk itu untuk melakukan transisi energi menggunakan EBT, banyak hal yang perlu diatasi.

"Jadi titik poin kita ini, EBT bukan pilihan tapi masa depan, tapi kita tidak berangkat dari nol, dan kita saat ini energi kita over suplai," kata Suahasil mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel