Wamenkeu : Hilirisasi industri bakal dorong ekonomi domestik

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan program hilirisasi industri dapat mendorong pertumbuhan ekonomi domestik pada masa mendatang.

Karena itu, saat membuka acara Media Gathering di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, dia meminta semua pihak untuk bersinergi dalam upaya meningkatkan hilirisasi industri atau memproduksi barang jadi di dalam negeri.

"Hilirisasi itu membuatnya menjadi bentuk barang lain yang ada nilai tambahnya, kita jual. Harganya bisa lebih mahal, dan kita bisa menerima penerimaan devisa yang lebih besar," kata Suahazil.

Baca juga: OJK: Kebijakan hilirisasi industri guna stabilkan sistem keuangan

Dia menyampaikan kekayaan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Indonesia harus bisa dimanfaatkan secara optimal dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan dan masyarakat.

"Hasil tambang kita, hasil bumi kita, hasil sumber daya alam kita, semaksimalnya, kalau bisa kita lakukan hilirisasi di dalam negeri," kata Suahazil.

Selain itu, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik, dia menyampaikan bisa dilakukan dengan meningkatkan produksi barang yang mengandung komponen dalam negeri, serta meningkatkan penggunaan produk itu di dalam negeri.

"Kalau kita pakai produksi dalam negeri, atau kita pakai produksi dalam negeri yang kandungan lokalnya itu lebih tinggi, pasti multiplier efek di dalam negerinya lebih tinggi. ke ekonomi domestik akan besar," kata Suahazil.

Baca juga: Ekonom: Hilirisasi industri merupakan langkah transformasi ekonomi

Sebagai pengambil arah kebijakan, dia menyampaikan pemerintah akan mengarahkan kerangka anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk meningkatkan produksi barang dalam negeri.

"Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih tinggi akan menciptakan multiplier yang besar di dalam negeri,"

Pemerintah harus melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan perekonomian nasional di tengah ketidakpastian perekonomian global, akibat pengetatan kebijakan moneter dan konflik geopolitik.