Wanita Cantik Sering Jadi Korban Pelecehan Seksual

Syahdan Nurdin, delala
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sebuah laporan yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology, mengungkap bahwa wanita muda serta menarik yang bertindak dengan cara anggun miliki kemungkinan lebih tinggi untuk diterima ketika membuat tuduhan pelecehan seksual.

Temuan studi ini dipimpin Universitas Washington (UW) melibatkan lebih dari 4.000 peserta, mengungkapkan persepsi bahwa wanita 'prototipe' kemungkinan besar akan dilecehkan. Penelitian juga menunjukkan bahwa wanita di luar norma yang ditentukan secara sosial atau wanita 'non-prototipe' lebih cenderung dianggap tidak dirugikan pelecehan.

Hal itu membuat wanita yang tidak sesuai dengan prototipe berpotensi menghadapi rintangan yang lebih besar saat mencoba yakinkan tempat kerja atau pengadilan bahwa mereka telah dilecehkan. Melihat hal itu, seorang mahasiswa pascasarjana psikologi di UW dan penulis utama studi ini, Bryn Bandt-Law memberikan komentarnya.

"Konsekuensi dari hal itu sangat parah bagi wanita yang berada di luar representasi sempit tentang siapa korbannya," ungkapnya.

"Perempuan nonprotipikal diabaikan dengan cara yang dapat menyebabkan mereka mendapatkan perlakuan diskriminatif di bawah hukum; orang berpikir mereka kurang kredibel - dan kurang dirugikan - ketika mereka membuat klaim dan berpikir bahwa pelakunya pantas mendapatkan hukuman yang lebih sedikit," jelasnya.

Penelitian ini dipimpin bersama Jin Goh, mantan peneliti di UW sekarang di Colby College, dan Nathan Cheek dari Princeton University. Peneliti mengatakan ide untuk penelitian itu berasal dari gerakan #MeToo, pelecehan seksual. #MeToo dan gerakan terkait berdayakan individu untuk ungkapkan pengalaman mereka dengan pelecehan seksual, yang didefinisikan oleh Komisi Kesempatan Kerja Setara AS sebagai diskriminasi gender dan/atau perilaku seksual yang tidak diinginkan yang dapat memengaruhi kinerja dan lingkungan kerja seseorang.

Gerakan ini juga mendorong orang untuk sebutkan pelaku dan dalam beberapa kasus mengambil tindakan hukum. Tetapi ketika penulis penelitian merefleksikan selebritas yang melangkah maju, mereka ingin mengeksplorasi lebih jauh gagasan mengenai kredibilitas. Mereka membuat serangkaian eksperimen untuk dibagi di antara 4.000 peserta untuk menjawab tiga pertanyaan penelitian.

Beberapa skenario merupakan pelanggaran hukum yang jelas dan berat, beberapa jelas tidak berbahaya, dan beberapa tidak jelas. Untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai siapa yang mungkin akan dilecehkan, beberapa peserta diminta menggambar wanita yang dilecehkan atau tidak dilecehkan, bergantung pada tugasnya.

"Ketika Anda membuat persepsi tentang pelecehan, Anda juga menghubungkannya dengan kewanitaan, tetapi cara kami memahami kewanitaan didefinisikan dengan sangat sempit. Jadi bagi siapa pun yang berada di luar definisi itu, akan sulit untuk menghubungkannya dengan pelecehan," kata penulis senior dan profesor psikologi UW, Cheryl Kaise.

Satu bidang yang membutuhkan studi lebih lanjut mengenai prototipe pelecehan adalah banyak variasi antara kelompok di antara perempuan, khususnya ras, etnis, orientasi seksual, dan identitas gender. Secara keseluruhan, peneliti percaya temuan mereka bantu menggambarkan bagaimana hukum tidak selalu melindungi orang-orang.

"Jika kita memiliki persepsi bias tentang bahaya bagi wanita non-prototipe, itu akan secara drastis mengubah hasil hukum mereka," kata Bandt-Law. "Jika mereka tidak dipercaya, mereka secara efektif dibungkam," jelasnya.