Wanita dalam 10 penerbangan dari Qatar diperiksa secara invasif

·Bacaan 3 menit

Sydney (AFP) - Penumpang wanita di 10 pesawat yang terbang keluar dari Doha dipaksa menjalani pemeriksaan fisik secara invasif, kata menteri luar negeri Australia pada Rabu, ketika pihak berwenang Qatar menyatakan penyesalan atas penderitaan para wanita ini akibat pemeriksaan itu.

Qatar telah berada di bawah tekanan besar setelah terungkap bahwa perempuan-perempuan dikeluarkan dari penerbangan Qatar Airways tujuan Sydney dan dipaksa menjalani pemeriksaan vagina dalam penggeledahan terakhir bayi baru lahir yang ditinggalkan di bandara Doha.

Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne kemudian mengumumkan Rabu bahwa pesawat-pesawat yang disasar jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya.

Dia mengatakan kepada parlemen bahwa wanita dalam "total 10 pesawat" telah menjadi sasaran penggeledahan yang sebelumnya dia gambarkan sebagai "sangat mengganggu" dan "menyinggung".

Payne mengatakan 18 perempuan -- termasuk 13 warga Australia -- dalam penerbangan 2 Oktober tujuan Sydney terkena dampak, bersama dengan berbagai "warga negara asing lainnya". AFP mengetahui seorang wanita Prancis dalam penerbangan itu termasuk di antara wanita-wanita itu.

Dia tidak mengungkapkan tujuan penerbangan-penerbangan lainnya seraya menambahkan bahwa dia tidak mengetahui apakah ada wanita Australia dalam pesawat itu.

Frances Adamson, kepala Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia, mengatakan ada "penderitaan, kebencian dan pertanyaan mendalam tentang bagaimana ini bisa terjadi".

Para pejabat mengatakan Australia juga bekerja sama "sangat erat" dengan negara-negara lain untuk bersama-sama meningkatkan keprihatinan terhadap Doha tetapi menolak menyebutkan nama negara-negara itu dengan alasan masalah privasi perempuan dalam penerbangan tujuan Sydney.

"Ada pandangan yang sangat kuat dan berpikiran sama tentang hal ini -- negara-negara lain yang terkena dampak sangat setuju dengan pandangan Australia dan keyakinan pandangan Australia," kata Adamson dalam dengar pendapat Senat.

Menghadapi kerusakan komersial dan reputasi yang berpotensi menghancurkan, pemerintah Qatar pada Rabu merilis pernyataan untuk menjelaskan versi kejadiannya dan berjanji memastikan "keselamatan, keamanan dan kenyamanan" penumpang di masa depan.

"Sementara tujuan dari penggeledahan yang segera diputuskan adalah untuk mencegah para pelaku kejahatan mengerikan itu melarikan diri, Negara Qatar menyesalkan setiap tekanan atau pelanggaran pada kebebasan pribadi setiap pelancong yang disebabkan oleh tindakan ini," kata pernyataan itu.

Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, telah memerintahkan penyelidikan dan hasilnya akan diberitahukan kepada mitra-mitra internasional, tambah pemerintah Qatar.

Namun pernyataan tersebut tidak secara spesifik menjelaskan bahwa perempuan-perempuan itu telah diperiksa secara paksa, hanya mengacu kepada "pencarian orang tua".

Pernyataan itu mengatakan bayi yang baru lahir itu ditemukan ditinggalkan di tempat sampah dan dibungkus dengan kantong plastik.

Payne mengatakan dia belum berbicara langsung dengan mitranya dari Qatar, dan bahwa dia "menunggu untuk melihat laporan" insiden yang dia perkirakan baru diterima pekan ini.

Bandara Internasional Hamad Doha telah meluncurkan seruan pada Minggu agar ibu anak tersebut melapor, dengan mengatakan bahwa bayinya tetap tidak teridentifikasi tetapi "aman di bawah perawatan profesional pekerja medis dan sosial".

Qatar Airways adalah salah satu dari sedikit maskapai penerbangan yang mempertahankan penerbangan ke Australia sejak negara itu menutup perbatasan internasionalnya pada awal pandemi dan membatasi pemulangan warganya.

Para ahli yakin maskapai itu dapat mengalami kerusakan pada bisnisnya, terlepas dari apakah mereka terlibat dalam insiden tersebut atau tidak.

Itu dapat juga telah membalikkan upaya-upaya Qatar dalam menaikkan reputasinya sebelum negara Teluk itu menjadi tuan rumah piala dunia sepak bola pada 2022.

Doha telah banyak berinvestasi dalam maskapai penerbangannya, stasiun televisi Al-Jazeera, dan proyek sosial yang mencakup prakarsa kesehatan dan pendidikan wanita.

Tetapi monarki Muslim yang konservatif ini, di mana seks pranikah dan melahirkan di luar nikah bisa dihukum penjara, telah berupaya meyakinkan para pengkritik bahwa janji-janji mereka tentang hak-hak perempuan, hubungan kerja dan demokrasi adalah bisa dipercaya.