Wanita dengan Kondisi Kesehatan Ini, 50 Persen Dapat Tertular COVID-19

Rochimawati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Jenis baru virus corona dapat memengaruhi orang-orang dari semua kelompok umur dan jenis kelamin, tetapi beberapa berisiko lebih besar tertular virus.

Sejauh ini kita tahu bahwa orang dewasa yang lebih tua, orang yang mengalami obesitas, mereka dengan kekebalan yang lemah, dan mereka yang memiliki penyakit jantung atau ginjal kronis lebih mungkin untuk terinfeksi setelah melakukan kontak dengan virus.

Sebuah studi baru mengungkap faktor risiko lain, khususnya bagi wanita. Dalam perkembangan terbaru, para peneliti menemukan bahwa wanita yang menderita PCOS (sindrom ovarium polikistik), yang merupakan kondisi hormonal, memiliki kemungkinan 50 persen lebih tinggi untuk tertular COVID-19.

Sindrom Ovarium Polikistik atau PCOS adalah kelainan hormonal yang umum terjadi pada wanita usia reproduksi. Dalam kondisi kesehatan ini, wanita mengembangkan kista di ovariumnya, yang bahkan dapat menyebabkan masalah kesuburan. Gejala PCOS antara lain penambahan berat badan, rambut rontok, menstruasi tidak teratur, jerawat dan lain-lain.

Di masa lalu, jumlah wanita yang menderita kelainan ini meningkat secara dramatis di seluruh dunia. Sesuai data resmi, kondisi hormonal mempengaruhi 1 dari 5 (20 persen) wanita usia subur di India, demikian dikutip dari Times of India.

Sesuai penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Endocrinology, wanita yang menderita PCOS memiliki kemungkinan lebih dari 50 persen untuk dites positif setelah terinfeksi virus corona.

Namun, ketika tim peneliti dari Institute of Metabolism and Systems Research, University of Birmingham, Inggris, menyesuaikan faktor kardiometabolik seperti diabetes tipe 2, penyakit hati berlemak non-alkohol, dan tekanan darah tinggi, tingkat infeksi menurun menjadi 26 persen.

Masalah kesehatan lain

PCOS disertai dengan masalah kesehatan lain seperti diabetes tipe 2, penyakit hati berlemak non-alkohol, dan tekanan darah tinggi, yang semuanya telah diidentifikasi sebagai faktor risiko COVID-19. Kondisi kesehatan metabolik ini dapat meningkatkan keparahan dan risiko infeksi.

Untuk mempelajari apakah PCOS dapat meningkatkan risiko COVID-19, tim peneliti dari Universitas Birmingham melakukan studi kelompok tertutup berbasis populasi selama gelombang pertama pandemi antara Januari dan Juli 2020.

Studi tersebut melibatkan 21.292 wanita dengan PCOS dan 78.310 tanpa PCOS. Pada akhir studi selama enam bulan, disimpulkan bahwa wanita dengan PCOS 51 persen lebih berisiko tertular COVID-19 dibandingkan dengan mereka yang tidak PCOS dengan usia dan latar belakang yang sama.

Para peneliti menegaskan bahwa studi mereka hanya mengevaluasi risiko tertular COVID-19, masih sulit untuk mengatakan apakah kondisi tersebut memengaruhi tingkat penularan atau tidak. Untuk mengetahui tingkat keparahan dan risiko komplikasi jangka panjang COVID-19, diperlukan penelitian lebih lanjut di bidang ini.

Berdasarkan temuan terbaru, para peneliti menekankan wanita dengan kondisi ini untuk merawat diri mereka sendiri dengan lebih baik, mematuhi norma COVID-19 dan mendapatkan vaksinasi segera setelah tersedia bagi mereka di wilayah mereka.