Wanita di Makassar Nekat Aborsi 7 Kali, Ini Risikonya

Merdeka.com - Merdeka.com - Kasus aborsi sebanyak tujuh kali yang dilakukan pasangan kekasih, SM (30) dan NM (29) menjadi perhatian masyarakat. Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Makassar telah melakukan tes psikologi, DNA, dan kesehatan tersangka wanita NM.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Makassar Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Reonald TS Simanjuntak menjelaskan, pihaknya sejak hari Minggu telah melakukan pemeriksaan kejiwaan dan DNA terhadap dua tersangka aborsi. Pemeriksaan melibatkan ahli psikologi, psikiater, dan visum hidup.

Reonald mengaku pihaknya melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan tersangka perempuan. Hal itu untuk mengetahui efek atau dampak dialami tersangka NM setelah melakukan aborsi sebanyak 7 kali.

"Kita juga ingin melihat kondisi kesehatan (tersangka NM) secara dalam. Apakah ada efeknya setelah melakukan aborsi sebanyak itu," tuturnya.

Risiko Infeksi hingga Kanker Serviks

Sementara, ahli kandungan Rumah Sakit (RS) Ananda, dr Fadli Ananda mengatakan apa yang dilakukan SM dan NM yang melakukan aborsi sebanyak tujuh kali merupakan tindakan yang sangat berisiko. Pasalnya, aborsi lebih dari dua kali berisiko infeksi bahkan bisa menyebabkan kematian jika tidak ditangani ahli medis.

"Aborsi tanpa pengawasan medis bisa terjadi pendarahan, infeksi, nyeri hingga kematian," ujarnya.

Ia menjelaskan perdarahan dan infeksi berlebihan menyebabkan nyeri panggul hebat. Bahkan kata mantan Calon Wakil Wali Kota Makassar ini, ada literasi menunjukkan jika melakukan aborsi lebih dari dua kali bisa meningkatkan risiko kanker serviks.

"Pendarahan hebat bisa saja terjadi jika tidak ditangani dengan baik," jelasnya.

Bisa Segera Hamil Setelah Keguguran

Fadli menyatakan bisa saja tersangka NM hamil sebanyak tujuh kali dalam waktu 10 tahun terakhir. Pada umumnya jika perempuan mengalami keguguran perlu dilakukan kuret.

"Setelah dikuret dan bersih, maka bisa hamil lagi dalam waktu sebulan setelah aborsi. Sehingga bisa terjadi hamil sebanyak 7 kali dalam jangka 10 tahun," sebutnya.

Fadli menegaskan aborsi secara ilegal merupakan pelanggaran hukum. Selain melakukan pembunuhan terhadap janin, juga bisa membahayakan perempuan.

Sampel DNA Dikirim ke Jakarta

Diberitakan sebelumnya, Kepolisian Resor Kota Besar Makassar telah melakukan tes kejiwaan dan pengambilan sampel DNA terhadap kedua tersangka aborsi tujuh janin yakni SM (30) dan NM (29). Kini Polrestabes Makassar mengirim sampel DNA ke Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri.

"Kemarin kurang lebih 6 jam sudah diperiksa psikologi oleh tim SDM Polda Sulsel, sementara pemeriksaan psikiater kurang lebih lima jam. Untuk tersangka perempuan telah kita lakukan visum hidup kurang lebih 2,5 jam," ujar Reonald di Mapolrestabes Makassar, Selasa (14/6).

Reonald mengaku pihaknya masih menunggu keterangan tertulis dari masing-masing ahli yang melakukan pemeriksaan kesehatan kejiwaan. Sementara untuk sampel DNA sudah dikirim ke Labfor Dokkes Mabes Polri.

"Untuk DNA sudah diambil dan kita kirim sampel ke Jakarta. Sedang menunggu hasilnya dari Labfor Dokkes Jakarta," kata dia.

Tersangka Bekas Mahasiswi Sekolah Tinggi Farmasi

Reonald menambahkan pihaknya kini menelusuri asal obat aborsi yang digunakan oleh kedua tersangka. Meski demikian, ia memastikan obat yang digunakan untuk aborsi merupakan pabrikan.

"Pasti kita telusuri. Dari mana obat itu, terus bagaimana mendapatkan. Yang pasti obat itu dalam bentuk sudah dari pabrikan, kecuali jamu yang diminum," bebernya.

Reonald juga meluruskan informasi terkait tersangka perempuan kuliah di bidang kebidanan. Ia mengaku tersangka perempuan sebenarnya kuliah pada bidang farmasi dan ternyata tidak lulus.

"Dia tidak lulus kuliah karena hamil di luar nikah. Jadi saya luruskan dia bukan kuliah kebidanan, tetapi tinggal di kos-kosannya milik bidan. Namun dia pernah sekolah di sekolah tinggi bidang farmasi," ucapnya.

Akibat perbuatannya, kedua pelaku tersebut terancam dijerat pasal berlapis. Sejumlah pasal yang akan dikenakan yakni Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 75 ayat (1) Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

"Ancaman hukuman untuk UU Perlindungan Anak 15 tahun. Kalau UU Kesehatan 10 tahun penjara," ucapnya.

Reonald mengaku kedua pelaku saat ini sedang perjalanan ke Kota Makassar dari Konawe, Sultra dan Tanah Bumbu, Kalsel. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel