Wanita Jepang menanggung beban resesi setelah pandemi singkapkan 'Womenomics' Abe

Oleh Eimi Yamamitsu dan Linda Sieg

TOKYO (Reuters) - Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe telah lama menciptakan lapangan pekerjaan bagi wanita yang menjadi pusat kebijakan ekonominya, tetapi kini wanita menjadi pihak yang merasakan sakit yang lebih besar ketika negara itu menuju kemerosotan ekonomi terburuk sejak Perang Dunia Kedua.

Berkat kelangkaan pekerja, partisipasi buruh perempuan mencapai tertinggi dalam satu dekade melebihi angka 70 persen yang dijanjikan kampanye Abe yang sering dijuluki "Womenomics". Tangkapannya: banyak perempuan tidak memiliki keamanan kerja seperti dinikmati pekerja laki-laki, dengan lebih dari setengahnya memiliki pekerjaan paruh waktu, kontrak atau pekerjaan sementara yang rentan.

Jumlah pekerja "tidak tetap" seperti itu membukukan rekor penurunan terbesar padan April, berkurang sebesar 970.000 menjadi 2,02 juta. Perempuan menyumbang 710.000 dari angka penurunan tersebut.

Itu yang membuat pekerja wanita "penyerap goncangan" ekonomi terbesar ketiga di dunia, kata Mari Miura, profesor ilmu politik Universitas Sophia. Hanya sekitar satu dari lima pekerja pria yang memiliki pekerjaan tidak tetap.

Pekerja tidak tetap Miyuki diberitahu April bahwa dia akan kehilangan pekerjaannya di jalur perakitan peralatan pertanian akhir bulan depan, sehingga dia keluar untuk mengambil tawaran lain. Tapi pekerjaan itu menghilang juga saat wabah corona merusak perekonomian.

Sejak itu dia menemukan pekerjaan yang mengerjakan tugas pengepakan pada sebuah perusahaan obat dengan upah setengah hari dan hanya sampai Juli. Sekarang dia sedang menunggu pembayaran stimulus 100.000 yen dari pemerintah dan telah menjual mobilnya untuk memotong biaya.

"Saya ingin bekerja," kata Miyuki (53). "Tak peduli seberapa sering pemerintah mengatakan akan memberikan dukungan keuangan, kami tidak tahu berapa lama virus corona akan bertahan."

Dia mengaku menginginkan pekerjaan yang lebih stabil, tetapi menambahkan, "untuk usia saya, hal itu bisa sulit."


'KEJUTAN BESAR '

Para ibu tunggal yang banyak hidup di bawah garis kemiskinan, sangat terpukul.

Asami (32), seorang ibu tunggal di Jepang tengah, kehilangan pekerjaannya karena melakukan pekerjaan berat untuk sebuah perusahaan plastik pada April setelah meminta cuti untuk merawat putra-putranya yang masing-masing berusia 4 dan 1 tahun.

"Itu kejutan besar secara ekonomi," kata Asami, yang belum menerima formulir aplikasi untuk pembayaran pemerintah.

"Saya tak bisa membantu tetapi berharap dukungan lebih cepat dan lebih substansial," kata Asami. Sejak itu ia mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang menjanjikan akan lebih fleksibel dalam mengasuh anak.

Anggaran ekstra pemerintah yang akan segera disahkan berisi tambahan subsidi satu kali untuk ibu tunggal, tetapi nasib pekerja perempuan lainnya kurang mendapat perhatian.

"Wanita dipandang bekerja sebagai suplemen untuk pendapatan pria, jadi meskipun mereka kehilangan pekerjaan, pria dianggap sebagai jaring pengaman mereka," kata Mieko Takenobu, profesor emeritus pada Universitas Wako di Tokyo. "Kenyataannya berbeda."

Dukungan pemerintah disalurkan melalui perusahaan-perusahaan untuk melindungi pekerjaan dan pendapatan selama kemerosotan yang sering gagal mencapai perempuan pada posisi yang tidak stabil, kata para pakar.

"Ada kesenjangan besar antara pekerja tetap dan tidak tetap, mereka yang dapat bekerja di rumah dan dibayar bahkan jika produktivitas turun dibandingkan mereka yang tidak mendapatkan gaji jika mereka tidak bekerja," kata Chieko Akaishi, ketua organisasi nirlaba Forum Ibu Tunggal.

Abe telah mengakhiri keadaan darurat nasional, tetapi kekhawatiran tetap ada dan pemulihan ekonomi bakal memakan waktu.

"Akan ada PHK lebih banyak lagi," kata Naoko Mogi, pendiri grup Facebook untuk wanita lajang pekerja tidak tetap.


(Laporan tambahan oleh Ami Miyazaki; Ditulis oleh Linda Sieg; Disunting oleh David Dolan dan Gerry Doyle)