Wanita Melamar Pria?

Oleh Stephanie Pappas, penulis senior LiveScience

Penelitian baru-baru ini mengungkapkan, meskipun peran gender di tempat kerja dan di masyarakat melonggar secara keseluruhan, pria dan wanita masih tradisional dalam hal pernikahan.

Bahkan, penelitian terhadap para mahasiswa di sebuah universitas yang berhaluan liberal menemukan bahwa tidak satu pun pria lajang yang mau dilamar wanita. Begitu pula para wanita lajang, mereka tidak mau melamar pria.

Sebanyak 60 persen responden wanita mengatakan bahwa mereka "sangat bersedia" atau "agak bersedia" untuk mengganti nama belakang mereka dengan nama suami setelah menikah. Sementara itu, 64 persen pria mengatakan mereka "sangat tidak mau" atau "agak tidak mau" melakukan hal yang sama untuk istri mereka.

"Kebanyakan orang memutuskan untuk melakukan [pernikahan] dengan cara tradisional," kata peneliti Rachael Robnett, seorang mahasiswa pascasarjana bidang psikologi di University of California (UC), Santa Cruz.

Namun, Robnett mengatakan kepada LiveScience, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa orang yang memiliki keyakinan kuat dalam peran pernikahan tradisional cenderung menjadi orang yang menganut seksisme, atau sikap bahwa perempuan harus dihargai, dilindungi dan diberikan perlakuan khusus.

Pernikahan dan seksisme

Seksisme terlihat jelas di permukaan, kata Robnett. Contohnya, orang-orang yang memegang sikap tersebut mungkin mengatakan bahwa perempuan harus diselamatkan pertama saat terjadi bencana. Mereka cenderung mengatakan bahwa perempuan harus diletakkan pada tempat tertinggi atau dirawat.

Keyakinan semacam ini sering dipandang sebagai tindakan yang sopan dan baik, katanya. "Di sisi lain, yang lebih berbahaya, adalah bahwa hal itu merenggut kehidupan wanita dalam hal-hal tertentu," kata Robnett.

Meminjam kata-kata aktivis feminisme Gloria Steinem, "Pemujaan wanita adalah penjara dalam setiap ruang, ruang yang terbatas."

Robnett dan rekan-rekannya tertarik untuk mengetahui apakah kebajikan seksisme mungkin berada di balik bertahannya peran gender dalam tradisi pernikahan. Data dari American Community Survey 2004 yang dilakukan oleh Lembaga Sensus AS, menemukan bahwa 94 persen wanita yang lahir dan menikah di Amerika Serikat mengganti nama belakang mereka saat menikah.

Demikian juga, kedua gender sangat percaya bahwa prialah yang seharusnya melamar, dengan cara berlutut dan menyertakan cincin berlian.

Siapa yang harus melamar?
Para peneliti mensurvei 277 mahasiswa heteroseksual di UC Santa Cruz mengenai sikap mereka terhadap usulan lamaran dan perubahan nama dalam status pernikahan. Para siswa juga ditanya tentang sikap mereka terhadap wanita, juga mengenai gagasan bahwa perempuan harus "ditempatkan pada kedudukan tertinggi."

Dua pertiga dari para mahasiswa tersebut, baik pria maupun wanita, mengatakan bahwa mereka "pasti" ingin pria yang melamar. Hanya 2,8 persen wanita yang mengatakan bahwa mereka yang “tampaknya” ingin melamar. Tegasnya, tidak seorang mahasiswa pun, baik pria atau wanita, yang "benar-benar" ingin agar wanita yang melamar.

"Hal tersebut, benar-benar mengejutkan," kata Robnett. Ia mengatakan bahwa UC Santa Cruz adalah lembaga yang relatif liberal dan banyak mahasiswa yang fleksibel tentang peran gender. Bagaimanapun juga, dalam kasus ini, mereka condong pada sisi tradisi budaya.

Para siswa juga diberi ruang untuk menjelaskan jawaban mereka. Sebanyak 41 persen perempuan dan 57 persen laki-laki langsung merujuk peranan gender dalam penjelasan mereka. Seorang pria, misalnya, mengatakan bahwa jika bukan dia yang melamar, ia akan "merasa tak berdaya." Seorang wanita menjawab bahwa lamaran yang dilakukan wanita akan menjadi hal yang "sangat aneh."

"Penjelasan yang paling banyak disebutkan adalah keinginan untuk mematuhi peranan tradisi gender, jadi ini adalah sesuatu yang muncul melalui hal yang sangat eksplisit, langsung dari mulut para partisipan kami," kata Robnett.

Sekitar seperempat responden wanita mengatakan "asmara" sebagai alasan bahwa prialah yang harus melamar, begitu pula 17 persen pria. Sebanyak 20 persen wanita juga mengatakan bahwa mereka takut ditolak atau dipandang sebagai sosok yang terlalu kuat, sementara 14 persen mengatakan bahwa jika mereka yang melamar maka hal tersebut akan menjadi aneh atau menakutkan. (Perempuan bisa memberikan beberapa jawaban yang berbeda, sehingga persentasenya kemungkinan tidak mencapai 100 persen.)

Mengganti nama belakang
Para mahasiswa sedikit lebih longgar mengenai peran gender dan perubahan nama. Sekitar seperlima dari pria dan wanita (19 persen pria dan 22 persen wanita) mengatakan mereka tidak terlalu ambil pusing tentang nama belakang.

Namun sebagian besar siswa masih memegang sikap tradisional, dengan hanya 5,9 persen laki-laki "sangat bersedia" untuk mengubah nama mereka dibandingkan dengan 26,2 persen wanita. Secara keseluruhan, sekitar tiga dari lima pria lebih suka tetap menggunakan nama mereka, sementara sekitar tiga dari lima perempuan bersedia untuk mengubah mereka.

Mereka yang tetap ingin menggunakan nama mereka sendiri sering memandang keputusan tersebut sebagai cara untuk menjaga identitas. Keinginan mereka untuk mewariskan nama mereka kepada anak-anak mereka juga menjadi jawabannya, dan 36 persen pria secara khusus mengatakan mereka ingin menjaga nama mereka karena peran tradisi atau gender.

Ketika menjelaskan mengapa mereka mau mengubah nama mereka, 31 persen wanita mengatakan bahwa mengambil nama suami melambangkan persatuan atau pengabdian, sedangkan 28 persen menyebutkan peranan gender dan tradisi. "Ini adalah tradisi dan seperti itulah hal tersebut dilakukan," kata seorang wanita.

Setelah melihat gender, etnis dan faktor latar belakang keluarga, para peneliti menguji untuk melihat apakah kebajikan seksisme berhubungan erat dengan sikap-sikap tradisional. Jawabannya? Berkaitan.

"Pria dan wanita yang menganut seksisme tinggi adalah orang-orang yang menyatakan keinginan yang sangat kuat untuk mematuhi tradisi pernikahan," kata Robnett.

“Tidak ada yang salah dengan itu,” tambah Robnett. “Banyak orang yang sangat senang dengan lamaran tradisional dan pengubahan nama,” tambahnya. Masalahnya, katanya, muncul ketika tradisi lebih diutamakan daripada fleksibilitas dan apa yang tepat untuk masing-masing pasangan.

"Jika Anda tidak memiliki fleksibilitas itu, maka itu akan dapat menghambat untuk pria dan wanita, wanita yang ingin melamar atau pria yang ingin menerima lamaran," katanya.

Hasil penelitian lengkapnya dijleaskan dalam “Journal of Adolescent Research” edisi Januari.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.