Wanita Penjual Kopi di Tepi Tol Tangerang-Merak dan Cerita Dalam Truk

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Matahari tepat di atas kepala, ketika seorang wanita muda keluar rumah sambil membawa barang dagangan. Melewati jalan yang sudah saban hari dilalui, kakinya terhenti di tepi jalan Tol Tangerang-Merak.

Dengan payung terbuka untuk menghalau sengatan panas matahari, dan termos berisi air panas di tangan, dia mulai menjajakan kopi kepada sopir truk yang melintas.

Semakin malam, penjual kopi di tepi tol semakin menjamur. Truk-truk besar terparkir di tepi jalan.

Harga segelas kopi panas dia patok Rp5.000. Selain minuman berkafein, dia juga menjual teh dan juga mi kemasan siap santap. Sopir truk yang sudah hafal dan sering melintas di sana, biasanya menyempatkan diri singgah sambil melepas penat.

Mereka dan wanita pedagang kopi terlihat bercengkrama di balik truk-truk besar yang terparkir di tepi jalan.

Ada perasaan takut dalam benaknya, lantaran lokasi tersebut berbahaya dan terlarang. Bukan tidak mungkin nyawa menjadi taruhan, mengingat jalur tersebut bebas hambatan.

Deretan wanita penjual kopi ini menjadi fenomena tersendiri. Pemandangan tersebut dapat dilihat saat melintas di Tol Tangerang-Merak arah Jakarta kilometer (KM) 42 hingga 40 dan arah Merak di KM 46.

Wanita tersebut bercerita saat ditemui di Rest Area Km 44, sudah enam bulan melakoni jualan kopi di tepi tol. Namun dia kini bergeser mendekat ke rest area KM 44 karena takut dirazia petugas.

"Takut dirazia, sekarang jualannya di sini enggak di sana, (mendekat ke rest area km 44)," ujar wanita yang enggak disebutkan namanya.

Sehari-hari, dia berjualan kopi hingga pukul 21.00 WIB. Tidak jarang pula menjumpai sopir berprilaku genit kepadanya.

"Itu mah gimana kitanya (menanggapi sopir yang genit)," ujarnya sambil tersipu.

wanita penjual kopi di pinggir jalan tol
wanita penjual kopi di pinggir jalan tol

©2022 Merdeka.com

Hal serupa juga diungkapkan wanita penjual kopi berinisial EC, iya mengatakan tidak jarang ada wanita penjual kopi yang melayani sopir hingga naik ke dalam truk.

"Saya mah enggak, jualan juga baru awal bulan puasa ngikut bibi. Itu yang sebelah sana, yang jualan sampai duduk di bawah, itu mah sering sampai jatuh jatuh, dia minta diturunin," ujarnya.

Iya mengungkapkan kadang ada penjual yang kerap menerima perlakuan tidak baik dari para sopir.

"Itukan kadang kalau misalkan ada yang naik ke mobil tergantung sopirnya, kadang ada yang baik kadang ada yang jahat. Kalau yang jahat kan enggak mau diturunin. Iya naik ke mobil, enggak tahu ngapain," ceritanya.

EC mengungkapkan dirinya dalam sehari dapat meraup keuntungan Rp50 ribu hingga Rp100ribu dari berjualan kopi.

"Saya mah enggak gede, kan jualannya juga deket deket, paling juga kadang dapat Rp50 doang kadang seratus," ujarnya. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel