Wapres ingatkan percepatan penurunan stunting memerlukan konvergensi

Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin mengingatkan upaya percepatan penurunan stunting memerlukan konvergensi antar program dan antar pelaku.

"Ini semua harus dilakukan secara gotong royong, kerja sama, dan saling memperkuat. Pemerintah tidak mungkin melakukan penurunan stunting sendirian," tegasnya saat meninjau Posyandu Kenanga, Jalan Gotong Royong, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis.

Untuk itu, Wapres menekankan pemangku kepentingan stunting di Kalimantan Selatan agar penanganannya dilakukan secara bersama-sama.

Wapres berpesan pula agar Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kelurahan mengkoordinasikan Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan Kader Posyandu dan kader lainnya.

Konvergensi merupakan pendekatan penyampaian intervensi yang dilakukan secara terkoordinir, terintegrasi, dan bersama-sama untuk mencegah stunting kepada sasaran prioritas.

Wapres lebih lanjut meminta agar perguruan tinggi, organisasi profesi, organisasi keagamaan, media, dan sektor swasta melalui CSR (tanggung jawab sosial perusahaan) untuk memberikan dukungan konkret dalam upaya percepatan penurunan stunting.

Wapres selaku Ketua Pengarah Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Pusat memberikan perhatian dan dukungan penuh kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk mempercepat penurunan stunting.

Sebagai informasi, dalam Keputusan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor: KEP.101/M.PPN/HK/06/2022 tentang Penetapan Kabupaten/Kota Lokasi Fokus Intervensi Percepatan Penurunan Stunting Terintegrasi Tahun 2023, Provinsi Kalimantan Selatan termasuk 12 provinsi prioritas khusus dimaksud. Berdasarkan data SSGI 2021, prevalensi stunting Provinsi Kalimantan Selatan berada pada 30,0 persen, di atas angka nasional yang 24,4 persen.

Momen kunjungan Wapres dan istri Wury Ma’ruf Amin ke Posyandu pada bulan Agustus ini bertepatan dengan momen Bulan Timbang, Ukur, dan Pemberian Vitamin A di Posyandu.

Bulan Agustus sejak tanggal 1-7 Agustus, adalah Pekan ASI Sedunia dan pelaksanaan penimbangan dan pengukuran merupakan salah satu upaya penting untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak terutama balita, sebagai upaya deteksi dini stunting.

Baca juga: Wapres: Pemerintah fokus turunkan angka kasus stunting di 12 provinsi

Baca juga: Wapres berharap Indonesia betul-betul miliki generasi emas pada 2045

Wury Ma’ruf Amin meneteskan vitamin A pada mulut bayi di Posyandu Kenanga, Kota Banjarbaru. (ANTARA/Setwapres)
Wury Ma’ruf Amin meneteskan vitamin A pada mulut bayi di Posyandu Kenanga, Kota Banjarbaru. (ANTARA/Setwapres)

Dalam kunjungan kali ini, Wapres dan istri meneteskan vitamin A pada mulut salah seorang bayi yang berkunjung ke Posyandu bersama orang tuanya.

Wury Ma’ruf Amin berpesan bahwa vitamin A sangat penting bagi balita. Vitamin A sangat penting untuk organ penglihatan, pertumbuhan tubuh, pembelahan sel, kesehatan sistem reproduksi, dan menunjang sistem kekebalan tubuh.

“Fungsinya banyak, di antaranya adalah menjaga kesehatan mata, memperkuat sistem kekebalan tubuh, menunjang pertumbuhan janin, menjaga kesehatan tulang, dan mencegah campak,” terangnya.

Dia mengingatkan bahwa asupan ASI eksklusif untuk bayi usia 0-5 bulan sangat berharga. Selama 6 bulan pertama, bayi cukup diberikan ASI saja tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain, termasuk air putih.

ASI adalah sumber asupan gizi bagi bayi baru lahir. Masa 6 bulan ini adalah periode emas bagi perkembangan anak sampai 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Saya minta kita semua, laki-laki dan perempuan, mendukung ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada anaknya secara sempurna,” pesannya.

Baca juga: Wapres Ma'ruf perintahkan kolaborasi untuk turunkan angka stunting

Baca juga: Wapres: Peningkatan akses air dan sanitasi dorong penurunan "stunting"