Wapres Ma'ruf Amin Yakin Industri Syariah Indonesia Diperhitungkan di Tingkat Dunia

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden Ma'ruf Amin yakin bahwa industri keuangan syariah di Indonesia sangat diperhitungkan di dunia. Apalagi dengan adanya rencana penggabungan tiga bank syariah BUMN.

"Dengan adanya Bank Syariah Indonesia ini, diharapkan Indonesia dapat menjadi pemain keuangan syariah yang diperhitungkan baik di tingkat lokal maupun global," kata dia dalam sambutannya di acara Sharia Business & Academic Sinergy, yang digelar virtual, Selasa (29/12/2020).

Seperti diketahui, dalam rangka memperkuat kelembagaan keuangan syariah di dalam negeri dan dalam rangka meningkatkan partisipasi Indonesia dalam perekonomian syariah global, pemerintah menggabungkan tiga bank syariah yang dimiliki oleh HIMBARA.

Ketiganya yaitu Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah, dan BNI Syariah dan akan beroperasi penuh pada Februari 2021 dengan nama Bank Syariah Indonesia.

Sebelumnya ,Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kartika Wirjoatmodjo memandang ketiga bank syariah BUMN ini memiliki keunggulan masing-masing.

Bank BRI Syariah unggul di segmen mikro. Bank BNI unggul di segmen consumer. Sedangkan, Bank Mandiri Syariah unggul di segmen wholesale. Sehingga bila digabungkan memiliki kompetensi yang lengkap.

"Gabungan bank ini akan ini punya kompetensi yang lengkap," kata dia.

Apalagi didukung dengan teknologi, resources, risk management, yang sudah ada. Sehingga membuat BSI Sejak awal menjadi berkesinambungan dan kompetitif.

Terpenting, kata Tiko, bisa meningkatkan platform yang berlandaskan ekonomi islam maupun dari produk halal menjadi jadi ekosistem baru. Sehingga bisa jadi semakin baik dengan berbagai inovasi dan pendanaan dari Bank Syariah Indonesia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

ICMI: Bank Syariah Indonesia jadi Jalan Keberkahan saat Transaksi Keuangan

Petugas melayani nasabah di BRI Syariah, Jakarta, Kamis (9/2). Perbankan syariah dinilai perlu menjaga momentum pertumbuhan dan pangsa pasar yang berlangsung sepanjang 2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Petugas melayani nasabah di BRI Syariah, Jakarta, Kamis (9/2). Perbankan syariah dinilai perlu menjaga momentum pertumbuhan dan pangsa pasar yang berlangsung sepanjang 2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) mendukung penuh pendirian bank syariah hasil merger yang bernama PT Bank Syariah Indonesia Tbk.

Ketua Umum ICMI Jimly Asshiddiqie mengatakan, kehadiran Bank Syariah Indonesia patut disyukuri. Alasannya, bank ini membuktikan bahwa integrasi bisnis industri perbankan syariah bukan hal yang mustahil dilakukan.

“Bagus, kami bersyukur karena itu kan sudah saran kami dua tahun lalu. Memang bagus karena itu mengintegrasikan semua bank syariah yang punya pemerintah, daripada terlalu banyak. Setidaknya itu mengintegrasikan, menterpadukan semua sehingga kekuatannya bisa menjadi terpadu,” ujar Jimly dalam keterangannya, Senin (21/12/2020).

Adapun proses merger Bank Syariah Indonesia hingga kini masih berlangsung. Entitas hasil merger PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank BRIsyariah Tbk., ini direncanakan terbentuk efektif pada 1 Februari 2021, dan berstatus sebagai perusahaan terbuka.

Saat ini, Akta Penggabungan ketiga bank syariah milik Himbara telah ditandatangani oleh direksi masing-masing bank. Penandatanganan dilakukan pasca RUPSLB untuk menyetujui merger dilakukan masing-masing bank pada pekan lalu.

“Market share dari keuangan syariah itu juga bisa diperluas (akibat merger bank syariah). Sejak awal ICMI sudah menyarankan, saya sudah bicara dengan Wapres Jusuf Kalla waktu itu, saya juga bicara dengan Presiden Jokowi,” kata Jimly.

Senada dengan Jimly, Pengamat Ekonomi dan Dai terkemuka asal Solo, Jawa Tengah, Ustaz Wijayanto menyebut kehadiran bank syariah hasil merger sebagai hal yang luar biasa.

Keberadaan bank tersebut dianggap menjadi jalan keberkahan dan menjadi jaminan agar masyarakat tidak lagi merasa takut dan sedih jika hendak bertransaksi keuangan melalui lembaga perbankan.

“Orang Islam harus Ahlan Wa Sahlan. Sikap kita kalau ada sesuatu yang berkaitan dengan syariah maka kita harus menerima, karena itu jalan keberkahan. Dengan syariah ada jaminan,” ujar Wijayanto.

Bank merger syariah nanti digadang memiliki aset total Rp 214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp 20,4 triliun. Jumlah tersebut menempatkan bank hasil merger masuk daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset, dan TOP 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar.

Berdasarkan susunan pengurus yang sudah ditetapkan, bank hasil merger akan dipimpin oleh Hery Gunardi selaku Direktur Utama. Hery akan didampingi dua Wakil Direktur Utama yakni Ngatari dan Abdullah Firman Wibowo serta 7 pejabat direktur lainnya.

Bank Syariah Indonesia akan melayani seluruh segmen masyarakat dan nasabah, mulai dari kelompok ritel, UMKM, wholesale, dan investor global. Untuk menjangkau pendanaan dan melayani investor global, Bank Syariah Indonesia berencana memiliki kantor representasi di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), setelah beroperasi nanti.

Saksikan video pilihan berikut ini: