Warga Aceh Timur Keracunan Flaring Gas PT Medco

Raden Jihad Akbar, Dani (Bekasi)
·Bacaan 1 menit

VIVA – Sejumlah warga di Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, Aceh diduga keracunan gas yang berasal dari perusahaan PT Medco E&P Malaka Block-A.

Para korban kini sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zubir Mahmud Aceh Timur.

Direktur RSUD Zubir Mahmud Aceh Timur, Edi Gunawan membenarkan adanya warga yang diduga keracunan. Sebelum dirujuk ke RSUD, korban sempat dirawat di Puskesmas Banda Alam.

"Ada 8, 7 korban sudah stabil dan satu agak berat," ujar Edi Gunawan saat dikonfirmasi, Jumat, 9 April 2021.

Edi belum bisa memastikan apakah bakal ada korban lagi atau tidak. Petugas rumah sakit saat ini siap siaga menerima jika ada pasien lagi yang akan dirujuk.

"Baru tiba 8 orang. Kita enggak tahu apa ada kiriman lagi atau enggak," kata Edi.

Baca juga: Jokowi Mau Bikin Kementerian Investasi, Bagaimana Nasib BKPM?

Dari pemeriksaan awal, para korban mengalami pusing-pusing, sesak, mual hingga muntah. Meski demikian, pihaknya belum bisa memastikan apakah korban mengalami keracunan atau bukan.

"Kita belum bisa pastikan penyebabnya (keracunan atau tidak), harus melalui proses pemeriksaan dulu. Apakah melalui analisa tes darah atau seperti apa itu," ungkap Edi.

Vice President Relations & Security Medco E&P Indonesia, Arif Rinaldi membenarkan sumber keracunan itu diduga berasal dari asap flare gas sumur. Namun, aktivitas tersebut sudah dihentikan.

"PT Medco bersama instansi terkait tengah fokus menangani dampak asap dari kegiatan flaring gas sumur AS-11 yang sedang dalam proses perawatan sumur," kata Arif.

Setelah kejadian itu, lanjut Arif, perusahaan langsung menghentikan aliran sumur, setelah mendapat informasi adanya warga yang menjadi korban keracunan.

Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan puskesmas, aparat dan keamanan setempat untuk menyalurkan bantuan logistik kepada warga.

“Kami juga telah berkoordinasi dengan BPMA (Badan Pengelola Migas Aceh) dan berharap dukungan masyarakat, pemerintah serta pemangku kepentingan setempat dalam penanganan kejadian ini,” ujar Arif.