Warga bersiap hadapi kenaikan harga BBM, sudah tepatkah kebijakan ini?

Masyarakat ramai mendiskusikan kemungkinan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi September ini. Hingga artikel ini diterbitkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani enggan menjawab pertanyaan media saat ditanya mengenai isu kenaikan ini.

Wacana kenaikan harga BBM ini tak lepas dari permasalahan subsidi bahan bakar yang kerap membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Subsidi yang mestinya untuk kelompok miskin dan rentan ini kerap salah sasaran dan justru dinikmati oleh kelompok menengah ke atas.

Isu ini semakin mendesak akibat naiknya harga minyak dunia, imbas dari konflik Rusia dan Ukraina.

Namun, di sisi lain, kenaikan harga BBM bisa makin mendongkrak inflasi Indonesia yang hampir menyentuh 5% akibat kenaikan harga pangan.

Dalam episode SuarAkademia terbaru, kami berbincang dengan Teuku Riefky, peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

Menurut Riefky, subsidi BBM memang seharusnya dialokasikan ke aktivitas ekonomi yang lebih produktif, seperti pembangunan infrastruktur atau biaya sekolah.

Ia menekankan bahwa jika harga BBM bersubsidi dinaikkan, inflasi memang akan melonjak. Namun, seiring waktu, inflasi akan kembali melandai karena adanya penyesuaian perilaku konsumen dan tingkat upah untuk mempertahankan daya beli.

Belum lagi, ekonomi Indonesia yang tengah menggeliat bisa mengurangi kekhawatiran terhadap dampak kenaikan BBM.

Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia – ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.