Warga Dilarang Mengebor Air Tanah di Kawasan Api Abadi Mrapen

Lis Yuliawati, antv/tvOne
·Bacaan 2 menit

VIVA – Api abadi Mrapen hari ini sudah menyala lagi setelah enam bulan lamanya padam. Untuk menghindari kemungkinan padam lagi, masyarakat di sekitar kawasan api abadi Mrapen diminta untuk tidak lagi melakukan pengeboran untuk mencari sumber air.

Dari hasil penelitian sebelumnya oleh Dinas ESDM Jawa Tengah dan para ahli geologi, salah satu penyebab padamnya api abadi Mrapen karena banyaknya aktivitas yang membocorkan gas itu ke permukaan, yang dapat diduga karena pengeboran untuk mencari air bersih.

“Di Kecamatan Godong (tempat api abadi Mrapen berada) yang merupakan ujung barat ini, rupanya cukup dangkal sehingga gas itu berada di kantong yang tidak terlalu jauh dari permukaan bumi," ujar Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Sudjarwanto, Selasa, 20 April 2021.

Dia menambahkan, "Kemudian ada struktur yang membuat bocoran di permukaan yang mengakibatkan semburan gas yang terbakar itu. Kemarin, terjadi mati karena banyak aktivitas yang membocorkan gas itu ke permukaan."

Menurutnya, di cekungan Randublatung air bersih amat sulit ditemukan sehingga jika pengeboran tidak dilakukan oleh pihak yang berkompeten maka yang keluar adalah gas.

“Kami meminta dengan tegas agar tidak melakukan pengeboran air tanah tanpa izin, oleh perusahaan atau juru bor yang tidak kompeten. Jangan menganggap di bawah tanah selalu ada air tanah. Pemboran air di wilayah Grobogan-Blora berisiko terjadi semburan gas yang berisiko keselamatan jiwa dan lingkungan," ujar Sudjarwanto.

Secara teknis, Sudjarwanto menjabarkan, api abadi Mrapen adalah fenomena dari gas alam yang secara alamiah menembus permukaan dan terbakar. Akumulasi gas yang terjadi di suatu tempat terjadi karena rangkaian panjang dari perjalanan sumber gas yang jauh dari permukaan bumi.

Adapun formasi batuan bagian dari zona stratigrafi lembah Randublatung yang memanjang dari sebelah timur Semarang sampai jauh di selatan Madura.

Zona ini merupakan zona depresi bertekanan tinggi dan memiliki tekanan kompresi yang begitu kuat sehingga lapisan batuan di bawahnya selalu bertekanan. Selain itu pula, lembah Randubaltung merupakan cekungan belakang dari sebuah tektonik yang bagian tengahnya adalah aktivitas magmatik. Fenomena yang tampak adalah jalur gunung api aktif (jalur Banda) dari tengah Sumatera-Jawa-Bali-NTB-NTT-Kepulauan Maluku-Sulawesi.

Laporan Teguh Joko Sutrisno (tvOne/ Semarang, Jateng)