Warga Jerman guncang jalanan protes kesepakatan dengan kanan jauh

Frankfurt am Main (AFP) - Puluhan ribu orang diperkirakan bergabung dalam unjuk rasa Sabtu di Erfurt, ibukota negara bagian Thuringia di bekas Jerman timur yang dulu komunis, tempat para anggota parlemen kanan jauh pekan lalu turut mengangkat menteri utama negara bagian itu.

"Tidak dengan kita! Tidak ada perjanjian dengan fasis kapan pun atau di mana pun!" adalah moto unjuk rasa yang diselenggarakan oleh federasi serikat pekerja DGB, LSM, seniman dan politisi yang tergabung dalam gerakan "Unteilbar" (tak terpisahkan).

Thuringia mengguncang politik nasional pada 5 Februari ketika para wakil rakyat negara bagian itu yang berasal dari partai kanan-tengah CDU pimpinan Kanselir Angela Merkel, bersama para legislator asal partai kanan jauh anti-imigran AfD, memilih politisi liberal Thomas Kemmerich sebagai menteri utama negara bagian itu.

Demonstrasi spontan itu seketika pecah di seluruh Jerman sebagai respons dengan sasaran utama CDU dan Partai Demokrat Bebas (FDP) pimpinan Kemmerich.

Hampir 24 jam setelah terpilih, Kemmerich setuju untuk mengundurkan diri.

Namun kemarahan terhadap partai-partai tengah yang menerima sokongan dari kanan ekstrem yang pertama kali terjadi berdirinya Republik Federal Jerman pada 1949 itu tetap menghantui para penyelenggara unjuk rasa.

"Pemilihan ini adalah akhir dari tabu" bekerja sama dengan partai kanan jauh, kata juru bicara Unteilbar Maximilian Becker kepada surat kabar Berlin Tageszeitung.

"Kami ingin menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Thuringia tak boleh diabaikan."

Sementara demonstrasi Sabtu itu seharusnya damai, beberapa orang melampiaskan amarah dengan menyerang kantor-kantor FDP di sekitar Jerman, lapor Der Spiegel. Ini menandakan ketegangan politik telah memuncak secara nasional.

Politisi-politisi arus utama menuduh bahwa salah satu tujuan AfD adalah melumpuhkan fungsi normal lembaga-lembaga negara.

Merkel menuduh partai kanan jauh itu ingin "melumpuhkan demokrasi", dan di Thuringia, terpilihnya dan mundur seketikanya Kemmerich telah membuat daerah ini pincang selama lebih dari sepekan.

Kini partai kanan jauh itu mengatakan akan memberikan suaranya kepada mantan perdana menteri Partai Kiri yang populer, Bodo Ramelow jika ada pemungutan suara baru di Erfurt, yang berpotensi memaksa dia menolak masa jabatan barunya itu.

Wakil-wakil dari semua partai selain dari AfD berencana bertemu Senin guna memajukan opsi-opsi mereka.

Dari pemerintah minoritas sampai kembali ke rakyat dalam pemilu baru, ada kemungkinan yang bisa menghentikan AfD.

Tetapi krisis ini sudah disebut-sebut sebagai masalah penting, setelah penerus Merkel dan pemimpin CDU Annegret Kramp-Karrenbauer (AKK) mengundurkan diri pada Senin setelah sudah jelas terlihat cengkeramannya di partai ini terlalu lemah.

Beberapa anggota CDU, terutama di bekas timur komunis, tak melihat ada salahnya bekerja sama dengan kanan jauh, yang dalam pemilu negara bagian baru-baru ini membukukan suara di atas 20 persen di seluruh wilayah.

Retorika AfD mengenai elite Berlin yang terpencil lebih menarik ketimbang mendukung retorika pekerja keras Jerman yang bergema di bekas Jerman Timur.

Di Thuringia, pendapatan rata-rata mencapai 35.700 euro pada 2018, dibandingkan dengan hampir 43.000 euro secara nasional, menurut otoritas statistik Destatis.

Tingkat pengangguran di negara bagian ini sedikit lebih tinggi dari tingkat pengangguran tingkat nasional 5,0 persen, tetapi sejumlah besar orang muda meninggalkan daerah ini dan tingkat kelahiran menurun drastis.

Lebih dari satu dari setiap empat penduduk Thuringia berusia lebih dari 65 tahun, di atas rata-rata nasional satu dari setiap lima penduduk di seluruh Jerman.

Kudeta terhadap kanan jauh Februari ini terjadi beberapa hari sebelum peringatan ulang tahun ke 75 di Dresden, ibukota negara bagian Saxony, untuk mengenang penghancuran kota tua barok itu oleh bombardemen sehari semalam Sekutu pada 1945.

Sekitar 1.500 neo-Nazi diperkirakan menggelar demonstrasi di sana Sabtu, yang juga diikuti sejumlah besar demonstrasi tandingan dan kehadiran polisi yang banyak.

Mereka merencanakan "pawai pemakaman" untuk "martir" kota itu, yang disebut para ekstremis sayap kanan sebagai kejahatan Sekutu yang setara dengan Holocaust.