Warga Kutai Timur Selamatkan Bayi Orang Utan Usai Terpisah dari Induk

Merdeka.com - Merdeka.com - Satu bayi Orang Utan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) berhasil diselamatkan warga setelah terpisah dengan induknya, yang dikabarkan ditembak mati di kebun sawit di Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Peristiwa itu sedang diselidiki Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) provinsi Kalimantan Timur.

Keterangan diperoleh merdeka.com, bayi itu dalam penanganan Kantor Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong, Kutai Kartanegara, setelah dijemput Selasa (8/11) malam di rumah seorang warga di Desa Perjiwa, Tenggarong Seberang.

Bayi orang utan itu dibawa dari kecamatan Muara Wahau, kabupaten Kutai Timur, untuk tujuan diserahkan ke pihak berwenang. Bayi itu terpisah dari induknya yang dikabarkan ditembak mati di kebun sawit di Muara Wahau.

"Sekarang ada di kantor seksi konservasi wilayah II Tenggarong. Kondisinya sehat, orang utan berkelamin jantan berusia sekitar 4 bulan," kata Kepala BKSDA Kalimantan Timur Ari Wibawanto, saat dikonfirmasi merdeka.com, Rabu (9/11).

Dari keterangan warga yang menyerahkan bayi orang utan itu, sebelumnya 3-4 bulan lalu, ditemukan ada di kebun sawit warga bersama induknya.

"Tapi ada satu hari, pagi hari, itu induknya sudah tidak terlihat warga," ujar Ari.

Bayi orang utan itu akhirnya dipelihara warga. Setelah mendapatkan informasi orang utan itu adalah satwa langka dan dilindungi, akhirnya dibawa ke Desa Perjiwa, Tenggarong Seberang. Komunikasi dilakukan oleh warga yang membawa bayi Orangutan itu untuk diserahkan setelah dijemput tim BKSDA Kalimantan Timur Kantor Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong.

"Terkait apakah induknya dibunuh atau tidak, informasi itu kami dalami. Belum ditemukan bukti apakah induknya dibunuh atau dipisah dari induknya. Jadi soal ini masih kami dalami," terang Ari.

"Usia empat bulan itu masih menyusu ke induknya. Rencana akan kita bawa ke tempat konservasi khusus kita di Berau (Kalimantan Timur) karena tempatnya lebih representatif bekerja sama dengan NGO (non governmental organization). Kenapa dibawa ke Berau? karena di lokasi Yayasan BOS (Borneo Orangutan Survival) sudah cukup penuh," tambah Ari.

Menurut Ary lagi, ke depan nantinya orang utan itu akan dilepasliarkan kembali ke alam liar.

"Jadi yang terpenting di sini adalah apresiasi kami terhadap warga yang tingkat kesadarannya sangat tinggi, terkait konservasi satwa dengan menghubungi dan menyerahkan ke kami," demikian Ari. [cob]