Warga Lereng Merapi Dievakuasi, Makelar Hewan Ternak Berkeliaran

Dedy Priatmojo
·Bacaan 3 menit

VIVA – Pemilk hewan ternak sapi di lereng Gunung Merapi, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, diminta agar tidak mudah terbujuk rayuan blantik atau makelar ternak untuk menjual ternak yang masih produktif dengan harga murah.

Fenomena ini muncul seiring rencana evakuasi warga yang tinggal di lereng Merapi sebagai respon atas meningkatnya aktivitas Gunung Merapi dalam beberapa waktu terakhir ini.

Camat Cangkringan, Suparmono mengaku fenomena kemunculan blantik yang menawar hewan ternak warga dengan harga murah di bawah pasaran. Mereka ingin menarik keuntungan dari kesulitan warga yang akan dievakuasi imbas aktivitas Merapi.

"Memang sudah ada kemunculan "blantik" (makelar) ternak yang menawar membeli ternak warga dengan harga di bawah pasaran. Kami imbau warga tidak mudah terbujuk untuk menjual ternaknya kepada spekulan," kata Suparmono di Sleman, Kamis, 12 November 2020.

Menurutnya, memang ada beberapa peternak sapi di Dusun Kalitengah Lor yang mengaku kesulitan untuk mengurus ternak mereka saat mereka harus mengungsi. "Ternak-ternak ini kan butuh perawatan rutin, mulai dari memberi makan dan membersihkan kandang dan ternak itu sendiri," katanya.

Ia mengatakan saat ini masih banyak ternak milik warga di kawasan rawan erupsi Merapi di Kalitengah Lor yang belum diungsikan, sehingga warga yang mengungsi setiap hari harus bolak-balik, naik-turun untuk mengurus ternak.

"Ini yang dimanfaatkan para spekulan, peternak yang kesulitan mengurus ternak ini kemudian dibujuk menjual ternaknya dengan harga murah," katanya.

Suparmono berharap pemerintah daerah, atau dinas terkait dapat memberikan solusi agar warga pengungsi tidak menjual ternaknya kepada spekulan.

"Misalnya pemerintah membeli ternak warga tersebut sesuai dengan harga pasaran, kami yakin ini bisa membantu peternak agar tidak terjebak spekulan, atau mungkin ada solusi lain yang tidak merugikan peternak," katanya.

Ia mengatakan saat ini masih banyak ternak milik pengungsi yang belum diungsikan ke tempat yang lebih aman setelah kenaikan status Gunung Merapi dari waspada menjadi siaga sejak 5 November.

"Total ternak di Dusun Kalitengah Lor ada sebanyak 294 ekor, terdiri dari 200 ekor sapi perah dan 94 sapi pedaging. Sampai saat ini baru 56 yang telah diungsikan," katanya.

Ternak yang telah dievakuasi tersebut meliputi 49 ekor di kandang komunal Dusun Singlar, tujuh ekor dititipkan di kandang komunal Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, dan satu ekor di Gading, Glagaharjo.

Kandang Khusus

Sebelumnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman bersama warga mengevakuasi ternak sapi perah milik warga Dusun Kalitengah Lor ke kandang Komunal Dusun Singlar, Glagaharjo.

"Kandang komunal di Singlar dipilih karena kondisinya layak untuk sapi perah dan berada pada radius lebih dari 5 Kilometer dari puncak Merapi," kata Pelaksana Kepala BPBD Kabupaten Sleman Joko Supriyanto.

Menurut dia, kandang komunal di Singlar bagus untuk menampung sapi perah, karena bangunan permanen, dan layak untuk menampung sapi produksi. "Kalau kandang tidak layak nanti dikhawatirkan dapat menghambat produksi susu," katanya.

Ia mengatakan, untuk ternak sapi potong, akan diarahkan ke kandang komunal Glagaharjo Cangkringan, di lapangan sisi timur barak pengungsian Glagaharjo.

"Kami akan membuat kandang yang bagus dari galvalum. Untuk menyiapkan kandang yang bagus butuh waktu, nah nanti kalau kandang sudah siap, ternak langsung dievakuasi," katanya.

Joko mengatakan, untuk kebutuhan pakan ternak setiap harinya tetap menjadi tanggungjawab pemilik ternak.

"Untuk mencari rumput di atas (lereng Merapi) pemilik ternak akan difasilitasi dengan truk sehingga para pemilik ternak bisa bersama-sama saat mencari pakan," katanya. (Ant)