Warga Mesir Terancam Tidak Bisa Lagi Minum Teh

Merdeka.com - Merdeka.com - Warga Mesir terancam tidak akan bisa lagi minum teh karena persediaan teh di negara itu bakal langka dalam beberapa bulan ke depan. Kelangkaan teh akan terjadi jika bank tidak mencairkan uang dolar Amerika Serikat (USD) yang diperlukan untuk kesepakatan impor.

Demikian disampaikan perusahaan teh raksasa, El-Fath for Food Industries pada Senin. Perusahaan ini yang mengemas dan menjual teh terkenal El Arosa.

El-Fath telah menyampaikan keluhan ini ke pemerintah Mesir dan memperingatkan warga Mesir tidak akan lagi menemukan teh di supermarket karena stoknya habis.

Dikutip dari Middle East Eye, Selasa (30/8), sekitar 6.000 ton teh El-Arosa masih tertahan di pelabuhan Mesir hampir sebulan karena tidak ada mata uang asing untuk melakukan pembayaran.

Ketua dewan perusahaan pengiriman maritim, Ahmed Al-Shami mengatakan kepada Middle East Eye, perusahaan pengiriman tidak bisa menerima pembayaran dalam bentuk mata uang Mesir karena sebagian besar kargo datang ke pelabuhan Mesir menggunakan kapal milik perusahaan asing. Sementara perusahaan yang mengimpor barang tersebut tidak memiliki uang dolar AS.

Cadangan devisa Mesir turun pada Juli menjadi sekitar USD33,143 miliar, sementara mata uang Mesir semakin kuat. Sejumlah ekonom telah memperingatkan negara itu bisa menghadapi penurunan cadangan devisa yang tidak akan bisa menutupi impor selama tiga bulan. Penyebabnya adalah inflasi dan tagihan energi yang tinggi, dan diperburuk perang Rusia-Ukraina.

Teh adalah komoditas paling penting di Mesir. Orang Mesir mengonsumsi teh senilai 5 miliar pound Mesir setiap tahun atau sekitar Rp3,8 triliun.

Mesir mengimpor 60 persen konsumsi teh, di mana 84 persen impor pada 2020 datang dari Kenya, senilai total Rp2,4 triliun. Mesir juga mengimpor 4,8 persen teh dari Sri Lanka dan 2,19 persen dari Uni Emirat Arab pada 2020.

Mesir masuk dalam peringkat ketujuh konsumsi teh global per pada 2016, dan Turki berada di peringkat pertama. Menurut Komite Teh Internasional (ITC), sekitar 273 miliar liter teh dan kopi dikonsumsi secara global pada 2018. [pan]