Warga mulai pindah dari lahan Waduk Lebak Bulus Jakarta Selatan

·Bacaan 2 menit

Puluhan warga Rukun Tetangga 14 Rukun Warga 04 Lebak Bulus V, Cilandak Barat, Cilandak, Jakarta Selatan mulai memindahkan barang dan peralatan rumah tangganya karena terkait proses pembebasan lahan untuk proyek Waduk Lebak Bulus di kawasan itu.


Salah satu warga, Meli (32) saat ditemui di Jakarta, Jumat, menuturkan bahwa puluhan kepala keluarga terkena dampak pembangunan Waduk itu mulai pindah sejak dua pekan lalu.

"Iya ini lokasinya yang bakal jadi waduk. Nanti penggusuran sampai dekat pemakaman," kata dia.

Dia mengatakan, warga mulai meninggalkan kawasan itu setelah pemerintah membayar kompensasi atas pembebasan lahan mereka.

"Belum lama ini warga pindah, sekitar dua mingguan, termasuk saya. Sekarang saya di Cinangka," katanya saat menjemput anaknya dari sekolah.

Pantauan Antara di lokasi, satu unit ekskavator dan sejumlah pekerja mengeruk sisi lahan untuk menutup kolam warga yang ada di permukiman itu.

Baca juga: Pembebasan lahan selesai, Waduk Lebak Bulus siap dikerjakan

Di tengah lahan tersebut satu bangunan masjid juga masih berdiri kokoh dan direncanakan akan dibongkar dalam waktu dekat.

Sementara itu, Sofia Novita salah satu warga terkena dampak lainnya masih memilih bertahan lantaran belum mendapatkan tempat tinggal baru.

Dia mengaku kecewa dengan kompensasi pembebasan lahan karena tidak sesuai harapan.

"Satu meter persegi itu Rp9 juta, padahal yang lain ada Rp16 juta. Saya tidak tahu kenapa begitu," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa dia masih menunggu keputusan tetangganya yang sampai saat ini masih berusaha mempertahankan lokasi rumahnya.

Baca juga: Kemarin, revitalisasi Kramat Jati sampai Waduk Lebak Bulus dikerjakan

Pelaksana tugas Camat Cilandak, Djaharuddin, sebelumnya mengatakan, pembebasan lahan untuk proyek pembangunan waduk Lebak Bulus dipastikan sudah selesai setelah beberapa tahun terkendala.

Camat Mampang Prapatan, Jakarta Selatan ini mengatakan, luas lahan Waduk Lebak Bulus diperkirakan mencapai 3-4 hektar.

Nantinya, proses pembuatannya tidak hanya melibatkan Dinas Sumber Daya Air, namun juga Dinas Pertamanan dan Hutan Kota serta Dinas Bina Marga DKI Jakarta.

“Karena ada pelebaran jalan dan pembuatan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Setahu saya tahun ini (proses pembangunan),” kata dia.

Djaharuddin menjelaskan, pembangunan waduk tersebut dinilai dapat mengurangi banjir si kawasan itu. "Memang wilayah rendah itu. Itu sudah disosialisasikan sebelum timbul kegiatan itu sebelumnya," kata dia.

Baca juga: Pemprov DKI alokasikan Rp1 triliun untuk normalisasi sungai dan waduk

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel