Warga Ogah Pakai Aplikasi Pelacak COVID-19, Takut Data Pribadi Bocor

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemerintah Thailand sedang memerangi pandemi Virus Corona, yang salah satunya, menggunakan aplikasi seluler pelacakan kontak COVID-19. Meski begitu, warganya justru mengkhawatirkan soal keamanan data pribadi.

“Saya tidak akan pernah mengunduh aplikasi ini karena saya tidak percaya. Saya sangat khawatir kehilangan data pribadi. Itu tidak sebanding dengan layanan yang saya dapatkan dari aplikasi ini,” kata salah satu warga ibu kota Bangkok, kata Phanphaka Rungruang, seperti dikutip dari situs Channel News Asia, Senin, 8 Februari 2021.

Baca: Aplikasi Ini Bisa Tampilkan Sertifikat Vaksin

Ia juga takut kalau pembobolan data pribadi yang disebabkan oleh malware seperti spyware. Selain itu, Rungruang menyoroti jika pengawasannya tidak langsung oleh pemerintah.

Aplikasi seluler pelacakan kontak milik Thailand itu bernama Mor Chana atau Doctors Win dalam bahasa Inggris. Efektivitas platform ini bergantung pada basis pengguna aktifnya. Sejak diluncurkan pada April 2020, aplikasi tersebut memiliki sekitar 7-8 juta unduhan, menurut Direktur Digital Government Development Agency (DGDA), Julapong Ponngoh.

“Terus terang saja, ini (unduhan) tidak banyak. Kalau tidak cukup orang yang mengunduh aplikasi ini maka tidak akan banyak gunanya," ungkap dia. Unduhan aplikasi Mor Chana saat ini hanya 20 persen dari total jumlah pengguna internet Thailand yang menggunakan smartphone, yaitu 41 juta orang berdasarkan survei 2019 oleh Ministry of Digital Economy and Society.

Aplikasi Mor Chana awalnya dikembangkan oleh sukarelawan dari berbagai organisasi yang ingin memanfaatkan teknologi smartphone untuk membantu tenaga kesehatan di Thailand dalam mengendalikan pandemi COVID-19.

Teknologi tersebut sepenuhnya dialihkan kepada pemerintah pada 15 Januari 2021, dan sejak itu telah dikelola oleh Disease Control Department of Thailand Public Health Ministry dan DGDA.

Menurut Julapong, pengontrol data aplikasi Mor Chana adalah Disease Control Department, yang memiliki wewenang dan tugas untuk membuat keputusan terkait pengumpulan, penggunaan, atau pengungkapan data pribadi pengguna.

Tugas mereka hanya berfungsi sebagai pemroses data. Artinya, hanya mengoperasikan pengumpulan, penggunaan, atau pengungkapan data pribadi ketika diperintahkan oleh Disease Control Department.

Pengguna smartphone yang menginstal versi terbaru aplikasi Mor Chana akan diminta untuk mengambil foto selfie dan mengizinkan aplikasi untuk mengakses sumber daya tertentu yang diperlukan untuk pelacakan kontak, seperti lokasi GPS dan Bluetooth.

Aplikasi Mor Chana kemudian akan membuat kode QR untuk pengguna dan menyelesaikan penginstalan. Kode QR ini adalah identitas anonim (AID) dan hanya dapat diuraikan oleh pejabat dari Disease Control Department menggunakan alat khusus.

Ketika aplikasi Mor Chana aktif, maka aplikasi tersebut langsung mencatat di mana dan kapan AID berada dan mengirim data ke server pusat. Jika tidak ada sinyal GPS, aplikasi akan mencari sinyal Bluetooth dari ponsel terdekat dan sebagai gantinya merekam lokasi GPS pengguna.

Data tersebut dianalisis ketika pasien COVID-19 diidentifikasi bersamaan dengan riwayat perjalanan masa lalu mereka. Tenaga kesehatan akan melacak individu yang berisiko terinfeksi menggunakan lokasi GPS dan AID yang disimpan di server pusat. Mereka kemudian akan memberi tahu pengguna tentang risiko kesehatan melalui aplikasi Mor Chana.