Warga Protes Penembakan Pria Kulit Hitam, Philadelphia Terapkan Jam Malam

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Philadelphia- Pejabat di Kota Philadelphia, AS mengumumkan jam malam pada 28 Oktober 2020, menyusul kerusuhan selama dua malam dalam protes atas kasus penembakan oleh polisi baru-baru ini terhadap seorang pria kulit hitam.

Menurut pernyataan di situs web pemerintah kota Philadelphia, jam malam di seluruh kota akan berlangsung mulai pukul 21.00 hingga 06:00 waktu setempat, seperti dikutip dari AFP, Kamis (29/10/2020).

Ribuan orang telah turun ke jalan-jalan di Philadelphia. Penjarahan dan kekerasan juga terjadi, setelah polisi pada 26 Oktober menembak mati seorang warga bernama Walter Wallace (27 tahun), yang membawa pisau.

Sementara menurut pihak keluarganya, Wallace menderita masalah kesehatan mental dan bertanya mengapa petugas tidak menyetrumnya.

Selain itu, kematian Wallace dan demonstrasi juga menghidupkan kembali bentrokan politik antara Partai Republik dan Demokrat kurang dari sepekan sebelum pemilihan umum di AS.

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan, "Ini adalah hal yang mengerikan, apa yang saya saksikan sangat buruk dan terus terang bahwa wali kota atau siapa pun itu yang membiarkan orang melakukan kerusuhan dan menjarah dan tidak menghentikan mereka juga hal yang mengerikan".

AS telah menghadapi gelombang protes dan kerusuhan sejak seorang petugas polisi di Minneapolis membunuh seorang pria kulit hitam bernama George Floyd pada Mei 2020.

Banyak dari protes tersebut menuding polisi melakukan rasisme dan kebrutalan, tetapi Presiden Trump telah berfokus pada kerusuhan untuk mendukung klaimnya sebagai kandidat "hukum dan ketertiban" dalam persaingan pemilu dengan Joe Biden.

Seruan Demonstrasi Secara Damai

Para pengunjuk rasa berbaris di sepanjang Embarcadero San Francisco (31/5/2020). Demonstrasi yang meluas telah meluas di seluruh Wilayah menyusul kematian George Floyd setelah dijepit di leher oleh seorang petugas kepolisian Minneapolis. (AP Photo/Nuh Berger)
Para pengunjuk rasa berbaris di sepanjang Embarcadero San Francisco (31/5/2020). Demonstrasi yang meluas telah meluas di seluruh Wilayah menyusul kematian George Floyd setelah dijepit di leher oleh seorang petugas kepolisian Minneapolis. (AP Photo/Nuh Berger)

Pada 27 Oktober 2020, Kandidat presiden dan wakil presiden dan Partai Demokrat, Joe Biden dan Kamala Harris mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa "hati mereka hancur" untuk keluarga Wallace.

Tetapi Biden dan Harris juga meminta para demonstran untuk memprotes secara damai.

"Tidak ada kemarahan atas ketidakadilan yang sangat nyata di masyarakat kita yang bisa dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan," ujar mereka.

"Penjarahan bukanlah protes, itu adalah kejahatan. Ini menarik perhatian dari tragedi kehidupan yang terputus," tambah Biden dan Harris.

Pada 26 Oktober 2020, dua petugas menembak Wallace sekitar pukul 16:00 waktu setempat setelah dia menolak untuk menjatuhkan pisau saat ibunya mencoba menahannya.

Video penembakan yang beredar di media sosial menunjukkan Wallace mendorong ibunya pergi dan kemudian berjalan menuju polisi.

"Letakkan pisaunya," teriak salah satu petugas dalam video tersebut.

Penyelidikan telah diluncurkan oleh komisaris polisi Philadelphia atas kasus penembakan itu.

Saksikan Video Berikut Ini: